Sunday, January 24, 2010

MANHAJ PARA RASUL DALAM MENANAMKAN AQIDAH

Para Rasul menyampaikan aqidah ini kepada umat manusia dengan cara yang seluruhnya mudah dipahami, sederhana dan logis. Para Rasul mengajak mereka untuk memperhatikan kerajaan langit dan bumi, membangkitkan akal mereka untuk berpikir tentang ayat-ayat (tanda kekuasaan) Allah, mengingatkan fitrah mereka kepada perasaan beragama yang telah ditanamkan padanya, dan menumbuhkan kesadaran akan adanya suatu alam di balik alam materi ini.


Dengan cara-cara inilah Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam menanamkan aqidah ini ke dalam jiwa umatnya, mengarahkan pandangan dan pikiran mereka, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrah mereka, seraya merawat tanaman ini dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai puncak kesuksesan. Nabi shallallahu 'alahi wa sallam berhasil mengubah uamt dari paganism dan kemusyrikan menjadi umat yang beraqidah tauhid, berhasil mengisi hati mereka dengan keimanan dan keyakinan, sebagaimana beliau berhasil menajdikan para sahabatnya sebagai pemimpin perbaikan umat dan pelopor kebajikan. Disamping berhasil mewujudkan suatu generasi yang berwibawa dengan iman dan berpegang teguh kepada kebenaran. Sehingga generasi ini bagaikan matahari bagi dunia dan pembawa kesejahteraan bagi umat manusia.

Allah telah memberikan kesaksian-Nya atas keungulan dan keistimewaan generasi ini, melalui firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (Ali Imran [3]: 110)

Iman yang dimiliki sebagian sahabat Nabi benar-benar telah mencapai derajat yang tinggi sebagaimana dikatakan salah seorang dari mereka: "Andaikata tabir (yang menutup pandangan) kami (terhadap hal-hal ghaib) itu dibukakan niscaya (hal itu) tidak menambah keyakinanku."

Di dalam hadits yang disampaikan al-Harits bin Malik al-Anshari radiyallahu 'anhu terdapat keterangan yang memberikan kepada kita gambaran iman yang cemerlang ini.

Suatu saat Haritsah melewati Rasulullah shalallahu 'alahi wa sallam, lalu Rasulullah bertanya: Bagaimana keadaanmu di pagi ini wahai Haritsah?

Ia menjawab: Di pagi ini aku menjadi seorang mukmin.

Nabi bersabda: Perhatikanlah apa yang kamu ucapkan. Sebab segala sesuatu itu punya bukti. Apa bukti imanmu?

Ia menjawab: Jiwaku telah menjauhi dunia, sehingga aku tidak tidur di malam hari (untuk munajat) dan aku haus di siang hari (kaerna berpuasa). Seolah-olah aku melihat 'Arsy Tuhanku dengan jelas, dan seolah-olah aku melihat penghuni surga saling kunjung-mengunjungi di dalamnya dan seolah-olah aku melihat penghuni neraka berteriak-teriak di dalamnya.

Nabi bersabda: Kamu telah mengetahui (ma'rifat) wahai Haritsah, maka tetaplah kamu demikian. (Diriwayatkan ole hath-Thabrani dengan sanad lemah).

(Sumber: Sayyid Sabiq. Aqidah Islamiyah, terj. Ali Mahmudi. Jakarta: Robbani Press, 2008, h. 11-12.)