amraji': "Mensucikan Jiwa" oleh Said Hawwa
Berikut ini merupakan kajian tentang *'ujub*, yaitu penyakit yang
mengakibatkan pengidapnya tidak dapat berinteraksi dengan orang lain secara
normal, karena dia tidak bersedia mengikuti orang lain dan orang lain pun
tidak dapat mengikuti pengidap penyakit ini, sebab mengikutinya akan membawa
kehancuran.
*'Ujub* adalah menganggap besar nikmat dan cenderung kepadanya tetapi lupa
menisbatkannya kepada Pemberi nikmat. Jika disamping itu dia merasa punya
hak di sisi Allah dan bahwa dia punya posisi di sisi-Nya sehingga dengan
amalnya ia yakin mendapat kemuliaan di dunia dan menganggap tidak mungkin
megalami hal-hal yang tidak disukai sebagaimana yang terjadi pada
orang-orang *fasiq*, maka hal ini disebut *id-lal* (lancang) dengan amal
perbuatannya.
Ketahuilah bahwa *'ujub* dinyataan trercela dalam Kitab Allah dan
Sunnah-Rasul-Nya, Alah berfirman dalam konteks mengingkari sifat *'ujub*:
*"Dan ingatlah peperangan hunain, yaitu di waktu kamu menjadi 'ujub karena
banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa'at
kepadamu sedikitpun."*
*(QS At-Taubah: 25)*
Nabi *shallallaahu 'alaihi wa sallam *bersabda kepada Abu Tsa'labah
*radiyallahu
'anhu* ketika menyebutkan generasi akhir umat ini,
*"Apabila kamu melihat kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang
diumbar, dan kekaguman setiap orang yang punya pendapat terhadap pendapatnya
maka selamatkanlah dirimu."*
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi, ia meng-*hasan*
-kannya).
Ibnu Mas'ud *radiyallahu 'anhu* berkata: "Kebinasaan ada dalam dua hal,
putus asa dan *'ujub*."
Ibnu Mas'ud ra menyebutkan kedua hal tersebut karena kabahagiaan tidak bisa
dicapai kecuali dengan usaha, pencarian, keseriusan, dan perjuangan,
sedangkan orang yang putus asa tidak mau berusaha dan tidak mau pula
mencari, sementara orang yang 'ujub beranggapa bahwa ia bisa mencapai
kebahagiaan dan menggapai tujuannya sehingga ia tidak mau berusaha, karena
apa yang sudah ada tidak perlu dicari dan apa yang mustahil juga tidak peru
dicari.
*Hal-hal yang Dipakai 'Ujub dan Terapinya*
*1. 'Ujub dengan fisiknya*
Pengobatan jenis 'ujub ini adalah dengan *tafakkur* (memikirkan-red) tentang
berbagai kotoran batinnya, tentang mula penciptaan dan akhir kesudahannya,
tentang bagaimana wajah yang cantik dan tubuh yang gemulai itu akan
terkoyak-koyak oleh tanah dan membusuk di kubur hingga menjijikkan.
*
*
*2. 'Ujub dengan kedigdayaan dan kekuatan*
*'Ujub* dengan kekuatan mengakibatkan kekalahan dalam peperangan,
pencampakan diri ke dalam kebinasaan dan terburu-buru. Terapinya ialah
dengan mengetahui bahwa meriang sehari saja bisa melemahkan kekuatannya dan
bahwa apabila ia *'ujub* dengan kekuatannya bisa jadi Allah akan mencabutnya
dengan sebab pelanggaran paling ringan yang dilakukannya.
*3. 'Ujub dengan intelektualitas*
Terapinya ialah dengan bersyukur kepada Allah atas karunia intelektualitas
yang telah diberikan-Nya, dan merenungkan bahwa dengan penyakit paling
ringan yang menimpa otaknya sudah bisa membuatnya berbicara melantur dan
gila sehingga menjadi bahan tertawaan orang. Ia tidak aman dari ancaman
kehilangan akal jika ia *'ujub *dengan intelektualitas dan tidak
mensyukurinya. Hendakalah ia menyadari keterbatasan akal dan ilmunya.
Hendaklah pula ia mengetahui bahwa ia tidak diberi ilmu pengetahuan kecuali
sedikit, sekalipun ilmu pengetahuannya luas.
*4. 'Ujub dengan nasab terhormat*
Terapi penyakit ini adalah mengatahui bahwa jika ia menyalahi perbuatan dan
akhlak nenek moyangnya dan mengira bahwa ia akan disusulkan dengan mereka
maka sesungguhnya ia bodoh, tetapi jika meneladani nenek moyangnya maka
hendaknya mengetahui bahwa nenek moyangnya tidak pernah *'ujub* bahkan
mereka senantiasa khawatir terhadap dirinya. Mereka mulia karena ketaatan,
ilmu, dan sifat-sifat terpuji bukan dengan nasab.
*5. 'Ujub dengan nasab para penguasa yang zhalim dan para pendukung meraka.*
Terapinya adalah dengan merenungkan tentang berbagai kehinaan mereka dan
tindakan-tindakan kezhaliman mereka terhadap para hamba Allah, kerusakan
yang meraka lakukan terhadap agama Allah, dan bahwa mereka adalah orang yang
dimurkai Allah.
*6. 'Ujub dengan banyaknya jumlah anak, pelayan, budak, keluarga, kerabat,
pendukung, dan pengikut*
Terapinya adalah merenungkan tentang kelemahannya dan kelemahan mereka,
bahwa mereka semua adalah hamba yang lemah, tidak kuasa memberi manfaat dan
bahaya kepada diri mereka sendiri.
*7. 'Ujub dengan harta*
Terapinya adalah merenungkan tentang keburukan-keburukan harta kekayaan,
hak-haknya yang banyak, dan para pendengkinya yang rakus. Kemudian
memperhatikan keutamaan orang-orang fakir dan bahwa mereka akan masuk surga
terlebih dahulu pada hari kiamat.
*8. 'Ujub dengan pendapat yang salah*
Terapi *'ujub* ini lebih berat ketimbang terapi *'ujub* yang lainnya, karena
pemilik pendapat yang salah tidak mengetahui kesalahannya, seandainya tahu
pasti ditinggalkannya. Tidak akan mengobati penyakit orang yang tidak tahu
bahwa dirinya sakit. Terapinya secara umum adalah hendaknya ia selalu
menuduh pendapatnya sendiri dan tidak terpedaya, kecuali jika secara pasti
didukung oleh Al-Qur'an atau sunnah atau dalil akal yang shahih yang
memenuhi berbagai persyaratannya.
*Wallahu 'alamu bishshawab*.
Wednesday, October 15, 2008
UJUB DAN TERAPINYA
Monday, October 13, 2008
PENTING DIBACA: UNTUK CARI KEBENARAN SEJATI
Menyaksikan anak manusia dengan berbagai pemikirannya tetang semesta raya ini membuat saya bertanya: "Apa sih yang buat mereka berbeda-beda pandang tentang Pencipta-nya?
Dari alam semesta yang sama ternyata lahir beragam teori tentang asal muasal alam semesta ini. Intinya cuma dua kubu: "Ada Tuhan sebagai Pencipta" dan "Tidak ada Tuhan".
Dan menempatkan diri di tengah keduanya akan membuat kita jatuh pada jurang kesesatan yang sangat parah. Karena bagaimanapun cuma dua pilihan: Ada Tuhan atau tidak ada?
Nah kalau ada yang memilih di tengah-tengah dengan alasan semua tidak pasti itu jelas menujukkan sesuatu yang bodoh dan absurd. (Misal dia mengatakan: "Lho bisa jadi khan yang benar itu yang tidak percaya tuhan atau sebaliknya, artinya tidak ada kebenaran mutlak). Saya berani mengatakan orang yang mencoba berpikiran seperti ini sama saja merendahkan kemanusiaannya dan menghina dirinya sendiri yang dilengkapi dengan beragam potensi seperti akal untuk menganalisa; mata untuk mengamati, membaca, dan meneliti; telinga untuk mendengar; dan potensi lainnya. Semua potensi ini mengharuskan si empunya untuk mengoreksi 'kebenaran'.
Akal pastilah akan merasa janggal manakala ada DUA BUAH KEEBNARAN YANG BERTENTANGAN PADA SAAT YANG SAMA. Nah, ada Tuhan dan Tidak ada Tuhan adalah dua buah kebenaran yang bertentangan. Jadi, akal akan berkata, "Tidak mungkin dua-duanya benar atau dua-duanya salah, pasti yang satu benar yang satu salah!" Tinggal nanti dilakukan pembuktian mana yang benar dan mana yang salah, Jadi hanya ada dua pendapat.
Sebelum masuk ke poin-poin penting dalam mencari kebenaran sejati--yaitu tentang eksistensi Allah--ada beberapa hal yang mesti kita HINDARI--jikalau ingin mencari dan mendapat kebenaran sejati itu, sebagai berikut:
Dari alam semesta yang sama ternyata lahir beragam teori tentang asal muasal alam semesta ini. Intinya cuma dua kubu: "Ada Tuhan sebagai Pencipta" dan "Tidak ada Tuhan".
Dan menempatkan diri di tengah keduanya akan membuat kita jatuh pada jurang kesesatan yang sangat parah. Karena bagaimanapun cuma dua pilihan: Ada Tuhan atau tidak ada?
Nah kalau ada yang memilih di tengah-tengah dengan alasan semua tidak pasti itu jelas menujukkan sesuatu yang bodoh dan absurd. (Misal dia mengatakan: "Lho bisa jadi khan yang benar itu yang tidak percaya tuhan atau sebaliknya, artinya tidak ada kebenaran mutlak). Saya berani mengatakan orang yang mencoba berpikiran seperti ini sama saja merendahkan kemanusiaannya dan menghina dirinya sendiri yang dilengkapi dengan beragam potensi seperti akal untuk menganalisa; mata untuk mengamati, membaca, dan meneliti; telinga untuk mendengar; dan potensi lainnya. Semua potensi ini mengharuskan si empunya untuk mengoreksi 'kebenaran'.
Akal pastilah akan merasa janggal manakala ada DUA BUAH KEEBNARAN YANG BERTENTANGAN PADA SAAT YANG SAMA. Nah, ada Tuhan dan Tidak ada Tuhan adalah dua buah kebenaran yang bertentangan. Jadi, akal akan berkata, "Tidak mungkin dua-duanya benar atau dua-duanya salah, pasti yang satu benar yang satu salah!" Tinggal nanti dilakukan pembuktian mana yang benar dan mana yang salah, Jadi hanya ada dua pendapat.
Sebelum masuk ke poin-poin penting dalam mencari kebenaran sejati--yaitu tentang eksistensi Allah--ada beberapa hal yang mesti kita HINDARI--jikalau ingin mencari dan mendapat kebenaran sejati itu, sebagai berikut:
- Sikap sombong. Orang yang yang hatinya congkak tidak akan bisa melihat kebenaran. (QS. Al-A'raf: 146)
- Zalim dan Dusta. (QS. Ash-Shaff:7; Az-Zumar:3)
- Tindakan yang merusak di muka bumi, dan memutuskan amanaa-amanat yang harus disampaikan. (QS. Al-Baqarah: 26-27)
- Sikap lalai. Orang yang lalai tidak akan menemukan kebenaran sejati--kenal Allah. Sebetulnya dibalik kelalaian ini, yang ada hanyalah hawa nafsu, karena kehidupan ini semuanya memang permainan dan hawa nafsu. (QS. Muhammad: 36; Al-Anbiya': 1-3)
- Sikap berbuat jahat. (QS. Al-Mutahffifin: 14; Al-Hijr; 12-13)
- Kita harus membebaskan diri kita dari sikap ragu-ragu untuk menerima kebenaran yang kita anggap sudah jelas. Orang yang ragu-ragu padahal kebenaran sudah tampak dengan jelas didepannya, hanya akan membawanya pada kesesatan. Dan dengan alasan itulah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Bukan karena Alalah tidak Mengasihi, tetapi karena perbuatan merekalah maka mereka sesat dengan izin Allah. (QS. Al-An'aam: 110)
Orang yang diliputi keenam sifat diatas akan sangat sulit atau bahkan cenderung mustahil untuk mendapat kebenaran sejati Contoh, orang yang sombong, ketika mendapati pendapatnya salah tetapi akibat sombong ia tidak mau mengakui kesalahan pendapatnya. Orang yang dusta akan berusaha sebisa mungkin menutupi pendapatnya yang absurd (mustahil) atau lemah atau jelas-jelas bermasalah karena tidak dilengkapi bukti-bukti yang akurat dan empiris. Nah, disinilah mengapa logika tidak akan pernah bertentangan dengan kebenaran sejati (adanya Allah). Bukan Allah atau bukti-bukti keberadaan-Nya yang tidak ada atau kurang meyakinkan, tetapi karena hati nurani yang tidak dipakailah yang menyebabkan seseorang itu berpaling dari kebenaran. Sebagaimana disampaikan di tulisan sebelum ini, selalu ada akal (rasio) dan nurani (conscience) di sisi lain untuk menemukan kebenaran sejati--eksistensi Allah.
Selanjutnya, mari kita masuki apa yang saya sebut poin-poin penting yang harus dipegang dalam mencari kebenaran sejati--eksistensi Allah-- itu (Poin ini diambil dari kaidah Aqidah yang disusun oleh Syaikh Ali Tanthawi dalam bukunya Ta'rif Am bi dinil Islam, fasal Qawaa'idul 'Aqa'id)
1. Apa yang saya dapat dengan indera saya, saya yakini adanya, kecuali bila akal saya mengatakan "tidak" berdasarkan pengalaman masa lalu.
Untuk menjelaskannya saya akan sebutkan sebuah permisalan.Jikalau pertama kali kita meihat pensil yang ada di dalam di segelas air terlihat bengkok, maka kita akan membenarkannya. Namun, apabila di kemudian hari ternyata terbukti penglhatan saya itu salah, maka untuk kedua kalinya bila saya melihat hal yang sama, akal saya akan langsung mengatakan tidak demikian hal yang sebenarnya.
2. Keyakinan, di samping diperoleh dengan menyaksikan langsung, juga bisa melalui berita yang diyakini kejujuran si pembawa berita.
Banyak hal yang memang tidak atau belum kita saksikan sendiri tapi kita meyakini adanya. Misalnya kita belum pernah ke Bulan, Mars, Amerika, India, Arab, atau ke Ka'bah, tapi kita yakin tempat-tempat itu ada. Atau tentang fakta sejarah, tenatang Daulah Abbasiyah, Umayah, tenatang Napoleon, Nazi, Charles Darwin, Lenin, Perang Dunia, Proklamasi, dan lain sebagainya, kita menerima kebenaran akan peristiwa-peristiwa ini dari sumber-sumber yang dipercaya. Bahkan, kalau seseorang mau memperhatikan (tentu dengan menghilangkan perasaaan yang enam di atas) ternayata dari sekian banyak hal yang selama ini ia yakini, ternyata yang belum dia saksikan jauh lebih banyak dari pada yang sudah disaksikannya.
3. Anda tidak berhak memungkiri wujud-(ada)-nya sesuatu, hanya karena anda tidak bisa menjangkaunya dengan indera mata.
Kemampuan alat indera memang sangat terbatas. Telinga ktia--dalam kondisi normal--hanya mampu menjangkau suara pada kisaran 20-20.000 Hz di luar itu kita meneyerah. Tapi apakah kita kemudian mengatakan, "Oh suara yang frekuensinya kurang dari 20 Hz ataulebih dari 20.00 Hz itu tidak ada karena saya tidak bisa dengar"?. Ternyata tidak, iIlmu pengetahuan bahkan membuktikan secara empiris dan akurat bahwa suara-suara itu ada.
Nah, keterbatsan ini juga berlaku untuk indera penglihatan.
Manusia memiliki batas jarak pandang. Sebagai contoh, bayangkan anda berdiri di tepi pantai dengan menghadap laut dan tidak terlihat apa-apa kecuali hamparan yang luas membiru. Orang yang menggunakan logikanya tidak akan mengatakan, "Oh, di ujung garis lurus itu tidak ada pulau lagi, karena tidak terlihat dari sini pulau itu."
Ia , dengan kesadaran penuh menyadari bahwa jangkauan matanya terbatas. Oleh karena itu mengklaim bahwa tidak ada pulau di ujung lautan sana karena tidak bisa dilihat sama saja dengan membodohi dirinya, dan merendahkan akalnya.
Jadi, begitupula dengan Dzat Allah, sangat tidak masuk akal orang yang mengatakan bahwa Alalh tidak ada hanya karena tidak bisa dilihat. Betapa mereka mengakui banyak hal yang tidak kelihatan, seperti magnet, listrik, perasaan cinta, marah, senang , dan lain sebagainya yang itu tidak kelihatan oleh mata. namun mereka percaya, karena ada fenomena-fenomena yang menunjukkan hal itu. Slahkan anda tunjukkan bentuk listrik itu seperti apa, anda tidak akan menemui jawabannya pada orang yang ahli kecuali mereka mengatakan, "Hanya ada medan listrik," dan seterusnya.
Bagaimana mungkin orang yang mengguankan akalnya, di satu sisi mengakui hal-hal itu , tapi menolak untuk menerapkannya pada Dzat Allah? Silahkan pikirkan, siapa yang salah? Bukti-bukti inikah atau cara berpikirkita yang salah??
4. Seseorang hanya bisa menghayalkan sesuatu yang sudah pernah dijangkau oleh inderanya.
Khayal manusia terbatas adanya. Anda tidak akan bisa membanyangkan sesuatu yang baru sama sekali. Bahkan dalam dunia desain sekalipun, seorang desainer abstrak mengambil ide dari hal-hal yang ada di sekelilingnya.
Anda boleh mengatakan lukisan si A abstrak. Tetapi cat air dan kanvas yang ia gunakan, bukankah membuktikan bahwa ia menggunakan inderanya?? Pemilihan warna yang ia lakukan diambil dari warna-warna yang sudah pernah ia lihat kemudian dicampur aduk menjadi sesuatu yang 'baru' menurut dia. Bahkan untuk menilai lukisan abstraknya, harus ada mata pengamat?? Nah darimana mereka menilai lukisan abstrak itu jikalau bukan dari pengalaman mereka menggunakan indera mereka??
Oleh karena itulah, anda tidak akan mungkin bisa membanyangkan sesuatu yang belum pernah diindera oleh anda. Misal, suara yang nadanya harum, parfum yang baunya merdu, dan lain sebagainya. Apa sebab?
Karena setiap indera anda terikat dengan hukum masing-masing dengan keterbatasan dan kekhususan yang pasti
5. Akal hanya bisa menjangkau hal-hal yang terikat dengan ruang dan waktu.
Ketika naik mobil dan melihat pohon di pinggir jalan, kita mungkin sempat berpikir, "Pohonya bergerak mundur". Tapi akal kita akan dengan cepat emngkoreksi, bahwa "Pohonnya diam, kita yang bergerak." Namun apakah akal akan selalu bisa menjangkau semuanya?? Ternyata tidak, akal pun hanya bisa menjangkau sesuatu yang terikat ruang dan waktu. Buktinya, silahkan anda sebutkan negeri yag dia tidak ada dimana-mana? Atau bisakah akal anda menjelaskan sesuatu peristiwa yang tidak terjadi di masa lalu, sekarang, atau yang akan datang?
6. Iman adalah fithrah (nurani) setiap manusia.
Setiap manusia memiliki fithrah untuk percaya pada Tuhan. Ambil contoh, ketika seseorang--yang tidak beriman sekalipun--tersesat dalam sebuah hutan sehingga ia kehilangan harapan hidup dan tidak ada siap-siapa, maka ia berharap ada sesuatu di luar dia untuk menolongnya. Dan pada saat itu, akalnya akan dengan cepat berputar untuk mengatakan padanya,
"Hei, jangan minta pada pohon atau tumbuhan atau binatang, karena kamu tahu mereka punya banyak keterbatasan, kamu bahkan lebih hebat dari mereka semua!!" Atau,
"Jangan minta pada bulan, matahari, batu, atau yang lainnya karena mereka semua benda mati. Benda mati itu tidak berkehendak. Ilmu pengetahuan yang berhasil kamu kumpulkan mengatakan itu semua!!"
Dan akalnya yang dimbing dengan nurani yang bersih akan mengatakan,
"Mintalah kamu kepada Sesuatu yang Dia memiliki kekuasaan yang tidak terbatas, Sesuatau yang Luar Biasa. Dan Dia haruslah yang Menciptakan, Mengendalikan, dan di luar alam semesta itu sendiri. Karena kalau bukan penciptanya,berarti dia tidak tahu seluk-beluk kamu, kalau dia tidak mengendalikan berarti dia tidak akan mampu menolong kamu--seperti halnya batu, bulan dan lain sebagainya itu--, dan kalau dia ada di alam semesta berarti dia terbatas, karena ilmu pengetahun yang kamu kumpulkan menunjukkan bahwa alam semesta ini tidak tak terbatas. Jadi mintalah kepada Dzat itu saja, yaitu kepada Allah semata!"
Bagaimanapun, fithrah ini hanya potensi dasar, ia harus dijaga, dikembangkan, dan dipelihara, karena ia bisa tertutupi oleh berbagai macam hal.
7. Kepuasan materiel di dunia sangat terbatas.
Manusia tidak akan puas dengan materiel. Contoh, seorang yang belum punya sepeda ingin punya sepeda. Setelah punya sepeda, ingin punya motor dan seterunya sampai mobil, pesawat, dan lain-lain.
Bila keinginannya tercapai dan kemudian berubah mejadi "biasa", maka keinginan itu tidak lagi mendatangkan kepuasan di dalam dirinya. Dia selalu ingin lebih dari apa yang didapatnya secara materiel. Oleh sebab itu, manusia butuh alam lain yang bukan di alam semesta ini--karena sekali lagi semuanya terbatas--untuk mendapatkan kepuasan hakiki yang tidak terbatas.
8. Keyakinan tentang Hari Akhir/Kiamat adalah konsekuensi logis dari keyakinan tentang adanya Allah.
Mengapa? Pertanyaan ini akan dijawab dengan pertanyaan dan jawaban. Sebagai berikut:
Jika Anda percaya Tuhan, maka anda harus percaya kalau Dia memiliki sifat-sifat Luar Biasa (Maha). Tentu jawaban anda, "Ya".
Baik kalau begitu, kemudian diantara sifatnya yang luar biasa itu adalah Maha Adil, yang pelaksanaan hukum dan sidang-Nya tanpa celah dan cacat sedikitpun? Sekali lagi anda akan menjawab, "Ya".
Nah, lalu kalau dikatakan dunia ini sudah cukup untuk menjadi pelaksanaan keadilan Allah, anda setuju?? Untuk ini barangkali anda akan menjawab sedikit ragu, "Bisa ya, bisa juga tidak" bergantung pengalaman anda.
Tapi, kalau kemudian saya bertanya lagi, berapa banyak penjahat, bandit, atau koruptor yang mati dengan lenggang kangkung tanpa sempat diadili?? Berapa banyak orang-orang teraniaya yang belum sempat mendapat haknya tapi keburu mati?? Bukankah ini menunjukkan bahwa keadilan Allah yang hakiki bukan di dunia ini, atau di alam semesta ini?? Tidak lain tidak bukan anda akan menjawa dengan jelas, "Ya".
Oleh karena itu, jika saya bertanya pada anda: Lalu berarti ada tempat lain yang bukan di alam semesta ini, dimana Allah akan menjalankan keadilan yang hakiki itu?? Maka sudah pasti anda akan menjawab, "Ya".
Berarti anda percaya, adanya hari akhir, khan?! Akan sangattidak masuk akal kalau anda tidak menjawab dengan, "Ya, saya percaya akan adanya hari akhir (kiamat)."
==========================
That's all..Semoga bermanfaat.
Mereka bermata tapi tidak melihat...
Bertelinga tapi tidak mendengar...
Berakal tapi tidak berpikir...
Berhati tapi tidak berperasaan...
Meraka itulah orang-orang yang menyesakan diri mereka sendiri dan membodohi diri mreka, sehingga mereka sesat dan bodoh, bahkan lebih sesat dan bodoh dari binanatang ternak...
Wallahu a'alam..
==========================
Rujukan penulisan:
1. Al-Quran Al-Karim
2. Fatwa-fatwa Rasulullah saw. dalam Masalah Aqidah oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
3. Kuliah Aqidah Islam oleh Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc.
4. Allah oleh Sayaikh Sa'id Hawaa
5. Pengantar Studi Aqidah Islam oleh Dr. Ibrahim Muhammad bin Abdullah Al-Buraikan
6. Allah dalam Aqidah Islam oleh Imam Hasan Al-Banna
7. Al-Utsul Ats-Tsalatsa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
8. Bahan kuliah Aqidah STIDDI Al-Hikmah oleh Al-Ustadz Arif Ma'ruf Lc.
9. Sumber lainnya.
AGAMA MENDORONG SAINS (2)
Percaya kepada Allah Membuat Ilmuwan Bergairah dan Bersemangat
Seperti telah disebutkan ditulisan sebelumnya, agama mendorong sains. Mereka yang menggunakan akal dan mengikuti nurani untuk melakukan penelitian ilmiah, akan memperoleh iman yang kuat karena mereka memahami tanda-tanda Allah secara langsung. Mereka dihadapkan pada suatu sistem yang tak bercela dan detail sempurna yang diciptakan Allah di tiap tahapan penelitian yang mereka kerjakan, dan di tiap penemuan yang mereka buat. Seperti dinayatakan Rasulullah Muhammad saw., mereka bertindak dengan kesadaran bahwa, "orang yang pergi untuk mencari pengetahuan adalah orang yang taat (beriman) pada Allah hingga ia kembali." (HR. Tirmidzi)
Sebagai contoh, seorang ilmuwan yang melakukan penelitian tentang mata, setelah mengetahui betapa kompleksnya sistem mata, menemukan bahwa mata tidak akan pernah dapat terbentuk melalui proses kebetulan yang berangsur-angsur. Pengujian lebih lanjut akan membuat dia menyadari bahwa setiap detail dalam struktur mata adalah suatu ciptaan ajaib. Dia melihat bahwa mata terdiri dari lusinan komponen yang bekerja bersama dalam keselarasan, sehingga meningkatkan kekagumannya kepada Allah yang menciptakannya.
Sama halnya, seorang ilmuwan yang menyelidiki kosmos akan segera mendapati dirinya dihadapkan pada ribuan keseimbangan yang luar biasa. Dia akan semakin haus akan ilmu setelah menemukan bahwa miliaran galaksi dan miliaran bintang dalam galaksi ini berada dalam keselarasan di dalam keluasan jagat raya tak terbatas. Melihat ini, orang yang beriman menjadi sangat terpesona dan terilhami untuk melakukan studi ilmiah menyingkap rahasia alam semesta. Di dalam salah satu, artikelnya, Albert Einstein -yang dianggap sebagai jenius terbesar era yang lalu-, merujuk inspirasi yang diperoleh ilmuwan dari agama:
"...Saya percaya bahwa perasaan religius yang kosmis adalah alasan paling kuat dan paling mulia untuk penelitian ilmiah. Hanya mereka yang menyadari upaya terukur dan--di atas segalanya--ketaatan (yang tanpa semua itu pekerjaan-pekerjaan perintis dalam sains teoritis tidak mungkin dicapai) saja yang mampu memahami kekuatan emosi (yang hanya bisa ditimbulkan oleh pekerjaan seperti itu, sekalipun jauh dari kenyataan hidup sehari-hari). Keyakinan yang mendalam akan rasionalitas alam semesta dan kerinduan untuk dapat memahami (meskipun hanya sebuah pemikiran lemah yang terungkap) di dunia ini, pastilah yang membuat Kepler dan Newton mampu menghabiskan bertahun-tahun bekerja dalam kesendirian untuk menguraikan prinsip-prinsip mekanika angkasa luar!
Mereka yang hanya mendapatkan pengetahuan penelitian ilmiah dari hasil-hasil praktis, dengan mudah dapat mengembangkan suatu gagasan salah dari mentalitas orang-orang (yang karena dikepung oleh suatu dunia skeptis) telah menunjukkan jalan ke arah pemikiran kelompok yang menyebar ke seluruh dunia dan sepanjang abad. Hanya orang yang telah mengabadikan hidupnya sampai akhir saja yang memiliki kesadaran jelas tentang apa yang telah mengilhami orang-orang ini dan memberi mereka kekuatan untuk tetap pada tujuan mereka kendati mengalami kegagalan tak terbilang. Itulah perasaan religius kosmis yang memberi kekuatan kepada seorang manusia. Tidaklah berlebihan jika para modernis berkata bahwa di zaman materialistis ini, para pekerja serius hanyalah orang-orang yang amat religius." (Albert Einstein, Ideas and Opinions, Crown Publishers, New York, 1954)
Johannes Kepler menyatkan bahwa dia terlibat dalam sains untuk menggali karya Sang Pencipta, sedang Isaac Newton, ilmuwan besar lain, menyatakan bahwa pendorong utama di belakang minatnya terhadap sains adalah keinginannya untuk mengenal Tuhan dengan lebih baik.
Itu adalah pernyataan beberapa ilmuwan terkenal. Para ilmuwan ini akhirnya percaya pada keberadaan Allah dengan menyelidiki alam semesta, kemudian terkesan oleh hukum-hukum dan fenomena-fenomena yang telah diciptakan Allah secara menakjubkan, serta berharap menemukan lebih banyak lagi.
Seperti yang kita lihat, keinginan untuk mempelajari tentang 'bagaimana Allah menciptakan alam semesta' telah menajdi faktor pendorong terbesar bagi banyak ilmuwan. Ini sangat penting, karena orang yang menyadari bahwa alam semesta dan segala makhluk hidup adalah hasil penciptaan, akan menyadari bahwa penciptaan tersebut mempunyai tujuan. Tujuan ini kemudian mengarahkan manusia pada makna. Keinginan memahami arti penciptaan, menemukan berbagi tandanya dan menemukan berbagai detailnya, akan mempercepat laju kajian-kajian ilmiah.
Akan tetapi, jika kenyataan penciptaan alam semesta dan makhluk hidup ditolak, makna ini akan lepas juga. Seorang ilmuwan yang percaya pada filosofi materialis dan Darwinisme, akan beranggapan bahwa alam semesta tidak memiliki tujuan, dan bahwa segalanya adalah peristiwa kebetulan. Akibatnya, penyelidikan alam semesta dan makhluk hidup tak diiringi pencarian makna. Mengomentari fakta ini, Einstein menyatakan, "Saya tidak dapat menemukan ungkapan yang lebih baik daripada 'religius' untuk keyakinan terhadap sifat rasional dari realitas, sepanjang dapat diterima akal sehat manusia. Kapan saja perasaan ini tidak ada, sains merosot menjadi empirisme membosankan." (Letter to Maurice Solovine I, January 1, 1951; Einstein Archive 21-174, 80-871, diterbitkan dalam Letters to SOlovine, hlm. 119)
Dalam kasus di atas, tujuan tunggal para ilmuwan dalam melakukan penemuan-penemuan hanyalah untuk meraih ketenaran, untuk diingat sejarah, atau untuk menjadi kaya. Tujuan seperti itu dapat dengan mudah mengalihkannya dari ketulusan hati dan integritas ilmiah. Sebagai contoh, jika kesimpulan yang dicapainya melalui penelitian ilmiah tersebut bertentangan dengan pandangan masyarakat pada umumnya, dia mungkin terpaksa merahasiakannya agar reputasinya tidak jatuh atau dipermalukan publik, atau agar reputasinya tidak turun.
Penerimaan terhadap terori evolusi dalam dunia sains adalah suatu contoh tidak adanya ketulusan. Pada dasarnya, banyak ilmuwan--yang setelah menghadapi fakta ilmiah--menyadari bahwa teori evolusi tidak mampu menjelaskan asal kehidupan. Namun, mereka tidak berani menyatakannya secara terbuka karena takut mendapat reaksi negatif. Sehuhungan dengan itu, seorang ahli fisika Inggris, H. S. Lipson membuat pengakuan:
"Kita tahu jauh lebih banyak tentang benda hidup dibandingkan Darwin. Kita tahu bagaimana kerja saraf dan saya memandangnaya sebagai mahakarya teknik elektro. Dan, kita memiliki ribuan--bahkan jutaan--syaraf ddalam tubuh kita. Kata yang muncul dalam benak tentang hal ini adalah: 'Rancangan' . Namun, para ahli biologi kolega saya tidak menyukai kata itu." (H.S. Lipson, A Physicist's View of Darwin's Theory, Evolutionary Trends in Plants, vol.2, no. 1, 1988, hlm.6)
Kata 'rancangan' disingkirkan dari literatur ilmiah hanya karena ia tidak disukai, bersamaan dengan banyaknya ilmuwan yang menyerah pada dogmatisme seperti itu. Mengomentari hal tersebut, Lipson berkata:
"Bahkan, evolusi menajdi semacam agama ilmiah; hampir semua ilmuwan sudah menerimanya dan banyak yang siap 'membengkokkan' penelitian mereka agar sesuai dengannya." (H.S. Lipson, A Physicist's Look at Evolution, Physics Bulletin, vol.31 (1080) hlm. 138)
Situasi yang tidak diinginkan ini merupakan hasil tipuan "sains anti Tuhan" yang menguasai masyarakat ilmiah mulai pertengahan abad ke-19. Namun, seperti yang dinyatakan Einstein, "Sains tanpa agama adalah pincang." (Albert Einstein, Science, Phylosophy, And Religion: A Symposium, 1941, bab 1.3). Kepercayaan palsu ini tidak hanya mengarahkan masyarakat ilmiah pada tujuan yang salah. Ia juga menyebabkan para ilmuwan--yang menyadari kesalahan tersebut--tetap tak peduli atau mendiamkannya.
Bersambung...
===================================
Deinisi beberapa istilah:
kos·mis a mengenai kosmos (yaitu semua yg ada); berhubungan dng jagat raya
kos·mos n jagat raya; alam semesta
Sa·ins n 1 ilmu pengetahuan pd umumnya; 2 pengetahuan sistematis tt alam dan dunia fisik, termasuk di dalamnya, botani, fisika, kimia, geologi, zoologi, dsb; ilmu pengetahuan alam; 3 pengetahuan sistematis yg diperoleh dr sesuatu observasi, penelitian, dan uji coba yg mengarah pd penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yg sedang diselidiki, dipelajari, dsb
re·li·gi·us /réligius/ a bersifat religi; bersifat keagamaan; yg bersangkut-paut dng religi: ia sangat terkesan akan kehidupan -- di Indonesia
ra·si·o·nal a 1 menurut pikiran dan pertimbangan yg logis; menurut pikiran yg sehat; cocok dng akal;
me·ra·si·o·nal·kan v membuat menjadi rasional;
ke·ra·si·o·nal·an n pendapat yg berdasarkan pemikiran yg bersistem dan logis; hal dan keadaan rasional
ra·si·o·na·li·tas n kerasionalan
re·a·li·tas /réalitas/ n kenyataan
===================================
Referensi Penulisan: Idem dengan sebelum ini
Sebagai contoh, seorang ilmuwan yang melakukan penelitian tentang mata, setelah mengetahui betapa kompleksnya sistem mata, menemukan bahwa mata tidak akan pernah dapat terbentuk melalui proses kebetulan yang berangsur-angsur. Pengujian lebih lanjut akan membuat dia menyadari bahwa setiap detail dalam struktur mata adalah suatu ciptaan ajaib. Dia melihat bahwa mata terdiri dari lusinan komponen yang bekerja bersama dalam keselarasan, sehingga meningkatkan kekagumannya kepada Allah yang menciptakannya.
Sama halnya, seorang ilmuwan yang menyelidiki kosmos akan segera mendapati dirinya dihadapkan pada ribuan keseimbangan yang luar biasa. Dia akan semakin haus akan ilmu setelah menemukan bahwa miliaran galaksi dan miliaran bintang dalam galaksi ini berada dalam keselarasan di dalam keluasan jagat raya tak terbatas. Melihat ini, orang yang beriman menjadi sangat terpesona dan terilhami untuk melakukan studi ilmiah menyingkap rahasia alam semesta. Di dalam salah satu, artikelnya, Albert Einstein -yang dianggap sebagai jenius terbesar era yang lalu-, merujuk inspirasi yang diperoleh ilmuwan dari agama:
"...Saya percaya bahwa perasaan religius yang kosmis adalah alasan paling kuat dan paling mulia untuk penelitian ilmiah. Hanya mereka yang menyadari upaya terukur dan--di atas segalanya--ketaatan (yang tanpa semua itu pekerjaan-pekerjaan perintis dalam sains teoritis tidak mungkin dicapai) saja yang mampu memahami kekuatan emosi (yang hanya bisa ditimbulkan oleh pekerjaan seperti itu, sekalipun jauh dari kenyataan hidup sehari-hari). Keyakinan yang mendalam akan rasionalitas alam semesta dan kerinduan untuk dapat memahami (meskipun hanya sebuah pemikiran lemah yang terungkap) di dunia ini, pastilah yang membuat Kepler dan Newton mampu menghabiskan bertahun-tahun bekerja dalam kesendirian untuk menguraikan prinsip-prinsip mekanika angkasa luar!
Mereka yang hanya mendapatkan pengetahuan penelitian ilmiah dari hasil-hasil praktis, dengan mudah dapat mengembangkan suatu gagasan salah dari mentalitas orang-orang (yang karena dikepung oleh suatu dunia skeptis) telah menunjukkan jalan ke arah pemikiran kelompok yang menyebar ke seluruh dunia dan sepanjang abad. Hanya orang yang telah mengabadikan hidupnya sampai akhir saja yang memiliki kesadaran jelas tentang apa yang telah mengilhami orang-orang ini dan memberi mereka kekuatan untuk tetap pada tujuan mereka kendati mengalami kegagalan tak terbilang. Itulah perasaan religius kosmis yang memberi kekuatan kepada seorang manusia. Tidaklah berlebihan jika para modernis berkata bahwa di zaman materialistis ini, para pekerja serius hanyalah orang-orang yang amat religius." (Albert Einstein, Ideas and Opinions, Crown Publishers, New York, 1954)
Johannes Kepler menyatkan bahwa dia terlibat dalam sains untuk menggali karya Sang Pencipta, sedang Isaac Newton, ilmuwan besar lain, menyatakan bahwa pendorong utama di belakang minatnya terhadap sains adalah keinginannya untuk mengenal Tuhan dengan lebih baik.
Itu adalah pernyataan beberapa ilmuwan terkenal. Para ilmuwan ini akhirnya percaya pada keberadaan Allah dengan menyelidiki alam semesta, kemudian terkesan oleh hukum-hukum dan fenomena-fenomena yang telah diciptakan Allah secara menakjubkan, serta berharap menemukan lebih banyak lagi.
Seperti yang kita lihat, keinginan untuk mempelajari tentang 'bagaimana Allah menciptakan alam semesta' telah menajdi faktor pendorong terbesar bagi banyak ilmuwan. Ini sangat penting, karena orang yang menyadari bahwa alam semesta dan segala makhluk hidup adalah hasil penciptaan, akan menyadari bahwa penciptaan tersebut mempunyai tujuan. Tujuan ini kemudian mengarahkan manusia pada makna. Keinginan memahami arti penciptaan, menemukan berbagi tandanya dan menemukan berbagai detailnya, akan mempercepat laju kajian-kajian ilmiah.
Akan tetapi, jika kenyataan penciptaan alam semesta dan makhluk hidup ditolak, makna ini akan lepas juga. Seorang ilmuwan yang percaya pada filosofi materialis dan Darwinisme, akan beranggapan bahwa alam semesta tidak memiliki tujuan, dan bahwa segalanya adalah peristiwa kebetulan. Akibatnya, penyelidikan alam semesta dan makhluk hidup tak diiringi pencarian makna. Mengomentari fakta ini, Einstein menyatakan, "Saya tidak dapat menemukan ungkapan yang lebih baik daripada 'religius' untuk keyakinan terhadap sifat rasional dari realitas, sepanjang dapat diterima akal sehat manusia. Kapan saja perasaan ini tidak ada, sains merosot menjadi empirisme membosankan." (Letter to Maurice Solovine I, January 1, 1951; Einstein Archive 21-174, 80-871, diterbitkan dalam Letters to SOlovine, hlm. 119)
Dalam kasus di atas, tujuan tunggal para ilmuwan dalam melakukan penemuan-penemuan hanyalah untuk meraih ketenaran, untuk diingat sejarah, atau untuk menjadi kaya. Tujuan seperti itu dapat dengan mudah mengalihkannya dari ketulusan hati dan integritas ilmiah. Sebagai contoh, jika kesimpulan yang dicapainya melalui penelitian ilmiah tersebut bertentangan dengan pandangan masyarakat pada umumnya, dia mungkin terpaksa merahasiakannya agar reputasinya tidak jatuh atau dipermalukan publik, atau agar reputasinya tidak turun.
Penerimaan terhadap terori evolusi dalam dunia sains adalah suatu contoh tidak adanya ketulusan. Pada dasarnya, banyak ilmuwan--yang setelah menghadapi fakta ilmiah--menyadari bahwa teori evolusi tidak mampu menjelaskan asal kehidupan. Namun, mereka tidak berani menyatakannya secara terbuka karena takut mendapat reaksi negatif. Sehuhungan dengan itu, seorang ahli fisika Inggris, H. S. Lipson membuat pengakuan:
"Kita tahu jauh lebih banyak tentang benda hidup dibandingkan Darwin. Kita tahu bagaimana kerja saraf dan saya memandangnaya sebagai mahakarya teknik elektro. Dan, kita memiliki ribuan--bahkan jutaan--syaraf ddalam tubuh kita. Kata yang muncul dalam benak tentang hal ini adalah: 'Rancangan' . Namun, para ahli biologi kolega saya tidak menyukai kata itu." (H.S. Lipson, A Physicist's View of Darwin's Theory, Evolutionary Trends in Plants, vol.2, no. 1, 1988, hlm.6)
Kata 'rancangan' disingkirkan dari literatur ilmiah hanya karena ia tidak disukai, bersamaan dengan banyaknya ilmuwan yang menyerah pada dogmatisme seperti itu. Mengomentari hal tersebut, Lipson berkata:
"Bahkan, evolusi menajdi semacam agama ilmiah; hampir semua ilmuwan sudah menerimanya dan banyak yang siap 'membengkokkan' penelitian mereka agar sesuai dengannya." (H.S. Lipson, A Physicist's Look at Evolution, Physics Bulletin, vol.31 (1080) hlm. 138)
Situasi yang tidak diinginkan ini merupakan hasil tipuan "sains anti Tuhan" yang menguasai masyarakat ilmiah mulai pertengahan abad ke-19. Namun, seperti yang dinyatakan Einstein, "Sains tanpa agama adalah pincang." (Albert Einstein, Science, Phylosophy, And Religion: A Symposium, 1941, bab 1.3). Kepercayaan palsu ini tidak hanya mengarahkan masyarakat ilmiah pada tujuan yang salah. Ia juga menyebabkan para ilmuwan--yang menyadari kesalahan tersebut--tetap tak peduli atau mendiamkannya.
Bersambung...
===================================
Deinisi beberapa istilah:
kos·mis a mengenai kosmos (yaitu semua yg ada); berhubungan dng jagat raya
kos·mos n jagat raya; alam semesta
Sa·ins n 1 ilmu pengetahuan pd umumnya; 2 pengetahuan sistematis tt alam dan dunia fisik, termasuk di dalamnya, botani, fisika, kimia, geologi, zoologi, dsb; ilmu pengetahuan alam; 3 pengetahuan sistematis yg diperoleh dr sesuatu observasi, penelitian, dan uji coba yg mengarah pd penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yg sedang diselidiki, dipelajari, dsb
re·li·gi·us /réligius/ a bersifat religi; bersifat keagamaan; yg bersangkut-paut dng religi: ia sangat terkesan akan kehidupan -- di Indonesia
ra·si·o·nal a 1 menurut pikiran dan pertimbangan yg logis; menurut pikiran yg sehat; cocok dng akal;
me·ra·si·o·nal·kan v membuat menjadi rasional;
ke·ra·si·o·nal·an n pendapat yg berdasarkan pemikiran yg bersistem dan logis; hal dan keadaan rasional
ra·si·o·na·li·tas n kerasionalan
re·a·li·tas /réalitas/ n kenyataan
===================================
Referensi Penulisan: Idem dengan sebelum ini
Sunday, October 12, 2008
AGAMA MENDORONG SAINS (1)
Islam merupakan agama akal (reason) sekaligus nurani (conscience). Seseorang mengenali kebenaran yang telah dinyatakan agama dengan menggunakan ilmunya, tetapi menarik kesimpulan dari kebenaran dengan menggunakan nuraninya. Seseorang yang menggunakan kemampuan akal dan nuraninya dalam mempelajari objek apa pun di alam semesta ini, sekalipun ia bukanlah seorang pakar, akan paham bahwa objek tersebut telah diciptakan olehPemilik Kebijakan, Ilmu dan Kekuatan yang agung. Dan, sekalipun ia mungkin menemukan sedikit saja dari ribuan faktor yang memungkinkan untuk adanya kehidupan di atas bumi, sudah cukup baginya untuk memahami bahwa dunia telah dirancang utnuk mendukung kehidupan di dalamnya.
Oleh karena itu, orang yang menggunakan akal dan mengikuti nuraninya, akan dengan cepat menangkap kemustahilan pernyataan bahwa dunia terbentuk secara kebetulan. Singkatnya, orang yang berpikir dengan kemampuan ini, tetntu menyadari tanda-tanda Allah dengan sejelas-jelasnya. Salah satu ayat yang mengacu pada orang-orang yang memiliki sikap seperti itu, adalah:
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imran, 3:191)
Di dalam Al-Quran, Allah memerintahkan manusia untuk memikirkan dan mengkaji tanda-tanda penciptaan di sekitar mereka. Rasulullah Muhammad saw., sang utusan Allah, juga memerintahkan manusia untuk mencari ilmu. Beliau bahkan menekankan bahwa menjadi kewajiban manusialah untuk mencari ilmu. Perintah itu diungkapkan dalam hadits shahih berikut ini:
"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setipa muslim." (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Anas bin Malik)
"Carilah ilmu dan sampikanlah kepada yang lain." (HR. Tirmidzi, Darimi, dan Daruquthni, dari Abdullah bin Mas'ud)
Barangsiapa menyelidiki seluk-beluk alam semesta dengan segala sesuatu yang hidup dan tak hidup di dalamnya, dan memikirkan serta menyelidiki apa yang dilihatnya di sekitarnya, akan mengenali kebijakan, ilmu, dan kekuasaan abadi Allah. Beberapa perintah Allah kepada manusia untuk merenungkan penciptaan ditunjukkan dalam ayat berikut ini:
"Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang berada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit biru yang tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit, air yang banyak manfaatnya, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun." (QS. Qaaf, 50:6-10)
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?" (QS. Al-Mulk: 67:3)
"maka apakah mereka tidak memerhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit, bagaimana dia ditinggikan? Dan bagaimana gunung-gunung, dan bagaimana ia ditegakkan? Dan bagaimana ia dihamparkan?" (QS. Al-Ghaasyiyah, 88:17-20)
Seperti diterangkan ayat-ayat diatas, Allah memerintahkan manusia untuk mempelajari dan mengkaji berbagai aspek dunia, seprti langit, hujan, tumbuhan, binatang, kelahiran, dan bentangan geografis. Cara untuk menyelidiki semua ini, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, adalah melalui sains. Pengamatan ilmiah memperkenalkan manusia pada misteri penciptaan, dan akhirnya pada pengetahuan, kebijakan, dan kekuasaan tanpa batas milik Allah. Sains adalah suatu cara untuk mengenal Allah dengan tepat, dan karena itulah sepanjang sejarah, sejumlah ilmuwan yang memberikan sumbangan besar bagi kemanusiaan telah beriman kepada Allah.
Bersambung...
==========================
Taken from: Al-Quran dan Sains
Author: Harun Yahya
Published by: Dzikra
Oleh karena itu, orang yang menggunakan akal dan mengikuti nuraninya, akan dengan cepat menangkap kemustahilan pernyataan bahwa dunia terbentuk secara kebetulan. Singkatnya, orang yang berpikir dengan kemampuan ini, tetntu menyadari tanda-tanda Allah dengan sejelas-jelasnya. Salah satu ayat yang mengacu pada orang-orang yang memiliki sikap seperti itu, adalah:
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imran, 3:191)
Di dalam Al-Quran, Allah memerintahkan manusia untuk memikirkan dan mengkaji tanda-tanda penciptaan di sekitar mereka. Rasulullah Muhammad saw., sang utusan Allah, juga memerintahkan manusia untuk mencari ilmu. Beliau bahkan menekankan bahwa menjadi kewajiban manusialah untuk mencari ilmu. Perintah itu diungkapkan dalam hadits shahih berikut ini:
"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setipa muslim." (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Anas bin Malik)
"Carilah ilmu dan sampikanlah kepada yang lain." (HR. Tirmidzi, Darimi, dan Daruquthni, dari Abdullah bin Mas'ud)
Barangsiapa menyelidiki seluk-beluk alam semesta dengan segala sesuatu yang hidup dan tak hidup di dalamnya, dan memikirkan serta menyelidiki apa yang dilihatnya di sekitarnya, akan mengenali kebijakan, ilmu, dan kekuasaan abadi Allah. Beberapa perintah Allah kepada manusia untuk merenungkan penciptaan ditunjukkan dalam ayat berikut ini:
"Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang berada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit biru yang tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit, air yang banyak manfaatnya, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun." (QS. Qaaf, 50:6-10)
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?" (QS. Al-Mulk: 67:3)
"maka apakah mereka tidak memerhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit, bagaimana dia ditinggikan? Dan bagaimana gunung-gunung, dan bagaimana ia ditegakkan? Dan bagaimana ia dihamparkan?" (QS. Al-Ghaasyiyah, 88:17-20)
Seperti diterangkan ayat-ayat diatas, Allah memerintahkan manusia untuk mempelajari dan mengkaji berbagai aspek dunia, seprti langit, hujan, tumbuhan, binatang, kelahiran, dan bentangan geografis. Cara untuk menyelidiki semua ini, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, adalah melalui sains. Pengamatan ilmiah memperkenalkan manusia pada misteri penciptaan, dan akhirnya pada pengetahuan, kebijakan, dan kekuasaan tanpa batas milik Allah. Sains adalah suatu cara untuk mengenal Allah dengan tepat, dan karena itulah sepanjang sejarah, sejumlah ilmuwan yang memberikan sumbangan besar bagi kemanusiaan telah beriman kepada Allah.
Bersambung...
==========================
Taken from: Al-Quran dan Sains
Author: Harun Yahya
Published by: Dzikra
AS-SUNNAH DAN KEDUDUKANNYA DALAM SYARI'AT ISLAM
A. DEFINISI AS-SUNNAH
Etimologis
Metode dan jalan, baik terpuji atau tercela. Jamaknya adalah Sunan
Menurut Fuqaha (Ahli/Pakar/Ulama Fiqih-peny)
Etimologis
Metode dan jalan, baik terpuji atau tercela. Jamaknya adalah Sunan
Menurut Fuqaha (Ahli/Pakar/Ulama Fiqih-peny)
- Suatu perintah yang berasal dari Nabi saw namun tidak bersifat wajib. Dia adalah salah satu dari hukum taklifi yang lima: wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.
- Kebalikan dari bid'ah.Contoh: Mereka mengatakan, "Talak yang sesuai dengan sunnah adalah demkian, dan talak yang bid'ah adalah demikian." Talak sunnah berarti yang terjadi sesuai dengan cara yang ditetapkan oleh syariat, talak bid'ah berarti kebalikannya yaitu tidak sesuai syari'at.
- Sesuatu yang dapat ditunjukkan oleh dalil syar'i, meskipun hal itu termasuk perbuatan sahabat dan ijtihad mereka.
Menurut Ulama Ushul Fikih
Apa yang bersumber dari Nabi saw selain Al-Qur'an, baik berupa perkataan, perbuatan, atau pengakuan beliau.
Menurut Ulama Hadits
Apa yang disandarkan kepada Nabi saw baik berupa perkataan, perbuatan, pengakuan, sifat atau sirah beliau.
Dengan makna ini maka ia menjadi sama dengan hadits nabawi, menurut mayoritas ahli hadits.
B. MENGAPA ADA BANYAK DEFINISI?
Jawaban pertanyaan ini adalah sebagai berikut:
Perbedaan mendefinisikan As-Sunnah menurut istilah ini bersumber dari perbedaan mereka pada tinjauan utama dari masing-masing disiplin ilmu.
Apa yang bersumber dari Nabi saw selain Al-Qur'an, baik berupa perkataan, perbuatan, atau pengakuan beliau.
Menurut Ulama Hadits
Apa yang disandarkan kepada Nabi saw baik berupa perkataan, perbuatan, pengakuan, sifat atau sirah beliau.
Dengan makna ini maka ia menjadi sama dengan hadits nabawi, menurut mayoritas ahli hadits.
B. MENGAPA ADA BANYAK DEFINISI?
Jawaban pertanyaan ini adalah sebagai berikut:
Perbedaan mendefinisikan As-Sunnah menurut istilah ini bersumber dari perbedaan mereka pada tinjauan utama dari masing-masing disiplin ilmu.
- Ulama hadits melihat dari sudut pandang Rasulullah sebagai seorang imam yang memberi petunjuk, yang diberitakan oleh Allah, bahwa beliau adalah teladan dan panutan bagi kita. Maka mereka meriwayatkan segala yang berkaitan dengan perilaku, akhlak, tabiat, berita-berita, perkataan, dan perbuatan beliau, baik yang telah ditetapkan sebagai hukum syar'i maupun tidak.
- Ulama ushul fikih membahas tentang Rasulullah saw sebagai seorang yang menyampaikan syariat yang meletakkan kaidah-kaidah bagi para mujtahid (orang yang berijtihad-peny) sesudahnya, dan menjelaskan kepada manusia undang-undang kehidupan. Maka mereka memperhatikan perkataan dan perbuatan serta ketetapan Rasulullah saw yang dapat menetapkan hukum dan memutuskannya.
- Ulama fikih membahas tentang perbuatan Rasulullah yang tidak keluar dari petunjuk terhadap hukum syara'. Tinjauan mereka adalah tentang hukum syar'i terhadap perbuatan hamba Allah dari segi wajib, atau sunnah, atau haram, atau makruh, atau mubah.
C. KEDUDUKAN AS-SUNNAH SEBAGAI HUJJAH (DALIL-PENY) DALAM SYARI'AT ISLAM
Sunnah nabawiyah (hadits nabawiyah-peny) adalah sumber hukum yang kedua dari sumber-sumber hukum agama, dan kedudukannya berada setelah Al-Qur'an, dan wajib diikuti sebagaimana wajibnya mengikuti Al-Qur'an.
Mengapa demikian? Berikut alasan-alasan (dalil) yang menunjukkan bahwa As-Sunnah adalah sumber hukum dalam agama:
- Al-Qur'an memuat banyak ayat yang menunjukkan adanya perintah Allah untuk mengikuti dan mentaati Rasul-nya. Misal firman Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 7: "Dan apa yang telah Rasul berikan kepada kalian maka ambillah dan apa yang telah Rasul larang bagi kalian maka tinggalkanlah.". Dalam ayat lain: "Wahai orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul." (An-Nisa':59)
- Allah telah memperingatkan kita untuk tidak menyelisihi perkatan beliau saw. (QS An-Nur:63)
- Mengikuti dan mentaati Rasul merupakan salah satu dari dasr-dasar keimanan.(QS. An-Nisa':65)
- Taat kepada Rasul merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah. Allah berfirman:"Barangsiapa yang taat kepada Rasul maka sungguh dia telah taat kepada Allah."(QS. An-Nisa:80)
- Perbuatan para sahabat ra menunjukkan bahwa mereka mentaati semua perintah Rasulullah saw dan mereka tidak membeda-bedakan antara hukum yang diwahyukan dalam Al-Qur'an dan hukum yang bersumber dari Rasulullah saw.
D. FUNGSI AS-SUNNAH TERHADAP AL-QUR'AN
- Untuk menguatkan apa yang ada pada Al-Qur'an.
- Sebagai penjelasan dan perinci. Mencakup tiga hal: merinci, mengkhususkan, dan membatasi. Contoh Nabi saw menjelaskan perihal shalat secara rinci terkait gerakan dan bacaan dalam shalat, yang hal ini tidak terdapat dalam Al-Qur'an. Dalam Al-Qur'an diterangkan bahwa setiap kerabat memilki hak waris, As-Sunnah kemudian mengkhususkan bahwa tidak semua anak/istri/orang tua dapat waris, ada yang tidak misal: anak yang membunuh orangtua atau istri bunuh suami tidak mendapat warisan dari orangtua atau suami yang dibunuh itu. Ketika orang meninggal Al-Qur'an mengharuskan meninggalkan wasiat yang baik, ini masih mutlak tidak terbatas, kemudian Rasulullah saw membatasi bahwa berwasiat tidak boleh lebih dari sepertiga harta milik.
- Membawa hukum baru yang tidak terdapat dalam Al-Qur'an. Contoh dalam masalah pernikahan Al-Qur'an mengharamkan menikahi dua bersaudara dalam pernikahan dalam satu waktu. Rasulullah saw menambahkan bahwa dilarang menikahi keponakan dan bibi dalam pernikahan dalam satu waktu.
E. POSISI AS-SUNNAH DALAM DALIL-DALIL SYARI'AT
Kedudukan As-Sunnah dalam dalil-dalil syariat berada di bawah kedudukan Al-Qur'an. Alasannya adalah sebagai berikut:
Kedudukan As-Sunnah dalam dalil-dalil syariat berada di bawah kedudukan Al-Qur'an. Alasannya adalah sebagai berikut:
- Al-Qur'an adalah qath'i (tegas,pasti-peny) karena mutawatir (diriwayatkan dan dihafalkan oleh orang dengan jumlah sangat banyak yang dengan jumlah itu tidak mungkin akan terjadi kebohongan dan keraguan atasnya disamping itu adanya jaminan penjagaan dari Allah, juga penjagaan yang ketat mulai dari zaman Nabi saw hingga saat ini, sehingga keberadaannya dan kebenarannya harus diterima dan diakui-peny) sedangkan As-Sunnah adalah zhanni (belum pasti) karena tidak semua hadits memilki kualitas dan standar yang sama di mata para ahli hadits, misal ada yang shahih ada yang dha'if (palsu, lemah), adanya perawi yang tidak dipercaya dst.
- Sebagaimana telah disinggung di bagian sebelumnya, As-Sunnah adalah penjelas terhadap Al-Qur'an atau sebagai penambah baginya. Jika sebagai penjelas, maka keberadaannya adalah setelah Al-Qur'an. Jika bukan sebagai penjelasan terhadap Al-Qur'an, maka ia tidak bisa dijadikan landasan kecuali setelah hukum tersebut tidak ditemukan dalam Al-Qur'an. Dan ini menjadi dalil didahulukannya Al-Qur'an atas As-Sunnah.
- Adanya perbuatan dan perkataan sabahat yang menunjukkan hal itu. Seperti hadits Mu'adz ketika Rasulullah saw bersabda,
- Dengan apa kamu berhukum?" Mu'adz menjawab, "Dengan kitabullah." Nabi bertanya kepadanya, "Jika kamu tidak menemukan (dalam Al-Qur'an)" Dia menjawab, "Dengan sunnah Rasulullah saw." Beliau bersabda, "Jika kamu tidak menemukannya?" Dia menjawab, "Aku berijtihad dengan pendapatku."
==========================================
KESIMPULAN DAN PENUTUP
As-Sunah (hadits) menempati kedudukan kedua dalam dalil-dalil syari'at. Penerimaan As-Sunnah sebagai dalil dalam hukum syar'i ditegaskan baik oleh Al-Qur'an, hadits itu sendiri maupun contoh perbuatan para sahabat.
Penolakan terhadap keyakinan ini akan berdampak pada dualisme. Di satu sisi ia mengakui bahwa Al-Qur'an benar adanya tetapi di sisi lain ia tidak mau beriman kepada seluruh isi Al-Qur'an. Bagaimana mungkin orang yang tidak mau menanati Rasul dikatakan beriman pada seluruh Al-Qur'an; padahal hal yang demikian justru diperintahkan oleh Al-Qur'an??
Oleh karena itu mari kita simak peringatan Allah kepada bangsa Yahudi yang pilih kasih terhadap ayat-ayat Taurat,
"Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian yang lainnya? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang berat." (QS. Al-Baqarah: 85)
==========================================
Referensi:
1. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur'an oelh Syaikh Manna' Al-Qaththan
2. Pengantar Studi Ilmu Hadits oleh Syaikh Manna Al-Qaththan
3. Sejarah dan Pengantar ilmu Hadits oleh Prof. Dr. T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy
4. Catatan Kuliah Tarbiyah Islamiyah (Amin Ilyas)
==========================================
PERBEDAAN: AL-QURAN, HADITS QUDSI & HADITS NABI
DEFINISI AL-QURAN
Bahasa:
Qara'a = mengumpulkan dan menghimpun
Qira'ah = emrangkai huruf-huruf dan kata-kata satu dengan lainnya dalam satu ungkapan yang teratur.
Al-Qur'an sama asalnya dengan qira'ah, yaitu akar kata dari qara'a-qira'atan wa qur'anan.
Menurut Ulama:
Firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad saw, yang pembacaannya menjadi ibadah.
DEFINISI HADITS
Bahasa : baru; sesuatu yang dibicarakan dan dinukil'
Menurut Ahli Hadits :
Apa yang disandarkan kepada Nabi saw, baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, sirah (sejarah-peny) beliau, baik sebelum kenabian atau sesudah.
Menurut Ahli Ushul Fikih:
Perkataan, perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah saw setelah kenabian. Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadits, karen ayang dimaksud dengan hadits adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekwensinya. dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian.
DEFINISI HADITS QUDSI
Definisi Qudsi : dinisbatkan kepada Qudus yang berarti suci.
Maksudnya sebuah penisbatan yang menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan, atau penyandaran kepada dzat Allah yang Maha Suci.
Hadits Qudsi Menurut Istilah:
Apa yang disandarkan oleh Nabi dari perkataan-perkataan beliau kepada Allah
PERBEDAAN ANTARA HADITS QUDSI DENGAN AL-QUR'AN
Hadits Nabawi disandarkan kepada Rasulullah saw dan diceritakan oleh beliau, sedangkan hadits qudsi disandarkan kepada Allah kemudian, kemudian Rasulullah menceritakan dan meriwayatkannya dari Allah.
Hadits Qudsi jumlahnya sedikit dibanding dengan hadits Nabawi.
==========================================
Bahan bacaan lebih lanjut:
1. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur'an oelh Syaikh MAnna' Al-Qaththan
2. Pengantar Studi Ilmu Hadits oleh Syaikh MAnna Al-Qaththan
3. Sunnah Rasul: SUmber Ilmu PEngetahun dan Peradaban oleh Syaikh Yusuf Al-Qaradhawiy
4. Sejarah dan Pengantar ilmu Hadits oleh Prof. Dr. T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy
5. Sumber lain yang berhubungan dengan hadits
==========================================
Semoga bermanfaat Barakallahu fiikum (Yang gak di-tagg juga boleh baca)
Bahasa:
Qara'a = mengumpulkan dan menghimpun
Qira'ah = emrangkai huruf-huruf dan kata-kata satu dengan lainnya dalam satu ungkapan yang teratur.
Al-Qur'an sama asalnya dengan qira'ah, yaitu akar kata dari qara'a-qira'atan wa qur'anan.
Menurut Ulama:
Firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad saw, yang pembacaannya menjadi ibadah.
DEFINISI HADITS
Bahasa : baru; sesuatu yang dibicarakan dan dinukil'
Menurut Ahli Hadits :
Apa yang disandarkan kepada Nabi saw, baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, sirah (sejarah-peny) beliau, baik sebelum kenabian atau sesudah.
Menurut Ahli Ushul Fikih:
Perkataan, perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah saw setelah kenabian. Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadits, karen ayang dimaksud dengan hadits adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekwensinya. dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian.
DEFINISI HADITS QUDSI
Definisi Qudsi : dinisbatkan kepada Qudus yang berarti suci.
Maksudnya sebuah penisbatan yang menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan, atau penyandaran kepada dzat Allah yang Maha Suci.
Hadits Qudsi Menurut Istilah:
Apa yang disandarkan oleh Nabi dari perkataan-perkataan beliau kepada Allah
PERBEDAAN ANTARA HADITS QUDSI DENGAN AL-QUR'AN
- Al-Qur'an itu lafzh dan maknanya dari Allah, sedangkan hadits qudsi maknaya dari Allah dan lafazhnya dari Rasulullah saw.
- Al-Qur'an hanya dinisbahkan kepada Allah semata.
- Al-Qur'an adalah Kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah; yang dengan itu orang Arab ditantang--tapi mereka tidak mampu--yaitu untuk membuat yang seperti AL-Qur'an, atau sepuluh surat yang serupa dengan itu, atau bahkan satu surat sekalipun. Tantangan ini tetap berlaku, karena Al-Qur'an merupakan mukjizat abadi hingga hari kiamat. Sedangkan hadits Qudsi tidak untuk menantang dan tidak pula sebrfungsi sebagai mukjizat.
- Membaca Al-Qur'an termasuk ibadah, karena itu ia dibaca dalam shalat.
Hadits Nabawi disandarkan kepada Rasulullah saw dan diceritakan oleh beliau, sedangkan hadits qudsi disandarkan kepada Allah kemudian, kemudian Rasulullah menceritakan dan meriwayatkannya dari Allah.
Hadits Qudsi jumlahnya sedikit dibanding dengan hadits Nabawi.
==========================================
Bahan bacaan lebih lanjut:
1. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur'an oelh Syaikh MAnna' Al-Qaththan
2. Pengantar Studi Ilmu Hadits oleh Syaikh MAnna Al-Qaththan
3. Sunnah Rasul: SUmber Ilmu PEngetahun dan Peradaban oleh Syaikh Yusuf Al-Qaradhawiy
4. Sejarah dan Pengantar ilmu Hadits oleh Prof. Dr. T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy
5. Sumber lain yang berhubungan dengan hadits
==========================================
Semoga bermanfaat Barakallahu fiikum (Yang gak di-tagg juga boleh baca)
Subscribe to:
Posts (Atom)