Menyaksikan anak manusia dengan berbagai pemikirannya tetang semesta raya ini membuat saya bertanya: "Apa sih yang buat mereka berbeda-beda pandang tentang Pencipta-nya?
Dari alam semesta yang sama ternyata lahir beragam teori tentang asal muasal alam semesta ini. Intinya cuma dua kubu: "Ada Tuhan sebagai Pencipta" dan "Tidak ada Tuhan".
Dan menempatkan diri di tengah keduanya akan membuat kita jatuh pada jurang kesesatan yang sangat parah. Karena bagaimanapun cuma dua pilihan: Ada Tuhan atau tidak ada?
Nah kalau ada yang memilih di tengah-tengah dengan alasan semua tidak pasti itu jelas menujukkan sesuatu yang bodoh dan absurd. (Misal dia mengatakan: "Lho bisa jadi khan yang benar itu yang tidak percaya tuhan atau sebaliknya, artinya tidak ada kebenaran mutlak). Saya berani mengatakan orang yang mencoba berpikiran seperti ini sama saja merendahkan kemanusiaannya dan menghina dirinya sendiri yang dilengkapi dengan beragam potensi seperti akal untuk menganalisa; mata untuk mengamati, membaca, dan meneliti; telinga untuk mendengar; dan potensi lainnya. Semua potensi ini mengharuskan si empunya untuk mengoreksi 'kebenaran'.
Akal pastilah akan merasa janggal manakala ada DUA BUAH KEEBNARAN YANG BERTENTANGAN PADA SAAT YANG SAMA. Nah, ada Tuhan dan Tidak ada Tuhan adalah dua buah kebenaran yang bertentangan. Jadi, akal akan berkata, "Tidak mungkin dua-duanya benar atau dua-duanya salah, pasti yang satu benar yang satu salah!" Tinggal nanti dilakukan pembuktian mana yang benar dan mana yang salah, Jadi hanya ada dua pendapat.
Sebelum masuk ke poin-poin penting dalam mencari kebenaran sejati--yaitu tentang eksistensi Allah--ada beberapa hal yang mesti kita HINDARI--jikalau ingin mencari dan mendapat kebenaran sejati itu, sebagai berikut:
Dari alam semesta yang sama ternyata lahir beragam teori tentang asal muasal alam semesta ini. Intinya cuma dua kubu: "Ada Tuhan sebagai Pencipta" dan "Tidak ada Tuhan".
Dan menempatkan diri di tengah keduanya akan membuat kita jatuh pada jurang kesesatan yang sangat parah. Karena bagaimanapun cuma dua pilihan: Ada Tuhan atau tidak ada?
Nah kalau ada yang memilih di tengah-tengah dengan alasan semua tidak pasti itu jelas menujukkan sesuatu yang bodoh dan absurd. (Misal dia mengatakan: "Lho bisa jadi khan yang benar itu yang tidak percaya tuhan atau sebaliknya, artinya tidak ada kebenaran mutlak). Saya berani mengatakan orang yang mencoba berpikiran seperti ini sama saja merendahkan kemanusiaannya dan menghina dirinya sendiri yang dilengkapi dengan beragam potensi seperti akal untuk menganalisa; mata untuk mengamati, membaca, dan meneliti; telinga untuk mendengar; dan potensi lainnya. Semua potensi ini mengharuskan si empunya untuk mengoreksi 'kebenaran'.
Akal pastilah akan merasa janggal manakala ada DUA BUAH KEEBNARAN YANG BERTENTANGAN PADA SAAT YANG SAMA. Nah, ada Tuhan dan Tidak ada Tuhan adalah dua buah kebenaran yang bertentangan. Jadi, akal akan berkata, "Tidak mungkin dua-duanya benar atau dua-duanya salah, pasti yang satu benar yang satu salah!" Tinggal nanti dilakukan pembuktian mana yang benar dan mana yang salah, Jadi hanya ada dua pendapat.
Sebelum masuk ke poin-poin penting dalam mencari kebenaran sejati--yaitu tentang eksistensi Allah--ada beberapa hal yang mesti kita HINDARI--jikalau ingin mencari dan mendapat kebenaran sejati itu, sebagai berikut:
- Sikap sombong. Orang yang yang hatinya congkak tidak akan bisa melihat kebenaran. (QS. Al-A'raf: 146)
- Zalim dan Dusta. (QS. Ash-Shaff:7; Az-Zumar:3)
- Tindakan yang merusak di muka bumi, dan memutuskan amanaa-amanat yang harus disampaikan. (QS. Al-Baqarah: 26-27)
- Sikap lalai. Orang yang lalai tidak akan menemukan kebenaran sejati--kenal Allah. Sebetulnya dibalik kelalaian ini, yang ada hanyalah hawa nafsu, karena kehidupan ini semuanya memang permainan dan hawa nafsu. (QS. Muhammad: 36; Al-Anbiya': 1-3)
- Sikap berbuat jahat. (QS. Al-Mutahffifin: 14; Al-Hijr; 12-13)
- Kita harus membebaskan diri kita dari sikap ragu-ragu untuk menerima kebenaran yang kita anggap sudah jelas. Orang yang ragu-ragu padahal kebenaran sudah tampak dengan jelas didepannya, hanya akan membawanya pada kesesatan. Dan dengan alasan itulah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Bukan karena Alalah tidak Mengasihi, tetapi karena perbuatan merekalah maka mereka sesat dengan izin Allah. (QS. Al-An'aam: 110)
Orang yang diliputi keenam sifat diatas akan sangat sulit atau bahkan cenderung mustahil untuk mendapat kebenaran sejati Contoh, orang yang sombong, ketika mendapati pendapatnya salah tetapi akibat sombong ia tidak mau mengakui kesalahan pendapatnya. Orang yang dusta akan berusaha sebisa mungkin menutupi pendapatnya yang absurd (mustahil) atau lemah atau jelas-jelas bermasalah karena tidak dilengkapi bukti-bukti yang akurat dan empiris. Nah, disinilah mengapa logika tidak akan pernah bertentangan dengan kebenaran sejati (adanya Allah). Bukan Allah atau bukti-bukti keberadaan-Nya yang tidak ada atau kurang meyakinkan, tetapi karena hati nurani yang tidak dipakailah yang menyebabkan seseorang itu berpaling dari kebenaran. Sebagaimana disampaikan di tulisan sebelum ini, selalu ada akal (rasio) dan nurani (conscience) di sisi lain untuk menemukan kebenaran sejati--eksistensi Allah.
Selanjutnya, mari kita masuki apa yang saya sebut poin-poin penting yang harus dipegang dalam mencari kebenaran sejati--eksistensi Allah-- itu (Poin ini diambil dari kaidah Aqidah yang disusun oleh Syaikh Ali Tanthawi dalam bukunya Ta'rif Am bi dinil Islam, fasal Qawaa'idul 'Aqa'id)
1. Apa yang saya dapat dengan indera saya, saya yakini adanya, kecuali bila akal saya mengatakan "tidak" berdasarkan pengalaman masa lalu.
Untuk menjelaskannya saya akan sebutkan sebuah permisalan.Jikalau pertama kali kita meihat pensil yang ada di dalam di segelas air terlihat bengkok, maka kita akan membenarkannya. Namun, apabila di kemudian hari ternyata terbukti penglhatan saya itu salah, maka untuk kedua kalinya bila saya melihat hal yang sama, akal saya akan langsung mengatakan tidak demikian hal yang sebenarnya.
2. Keyakinan, di samping diperoleh dengan menyaksikan langsung, juga bisa melalui berita yang diyakini kejujuran si pembawa berita.
Banyak hal yang memang tidak atau belum kita saksikan sendiri tapi kita meyakini adanya. Misalnya kita belum pernah ke Bulan, Mars, Amerika, India, Arab, atau ke Ka'bah, tapi kita yakin tempat-tempat itu ada. Atau tentang fakta sejarah, tenatang Daulah Abbasiyah, Umayah, tenatang Napoleon, Nazi, Charles Darwin, Lenin, Perang Dunia, Proklamasi, dan lain sebagainya, kita menerima kebenaran akan peristiwa-peristiwa ini dari sumber-sumber yang dipercaya. Bahkan, kalau seseorang mau memperhatikan (tentu dengan menghilangkan perasaaan yang enam di atas) ternayata dari sekian banyak hal yang selama ini ia yakini, ternyata yang belum dia saksikan jauh lebih banyak dari pada yang sudah disaksikannya.
3. Anda tidak berhak memungkiri wujud-(ada)-nya sesuatu, hanya karena anda tidak bisa menjangkaunya dengan indera mata.
Kemampuan alat indera memang sangat terbatas. Telinga ktia--dalam kondisi normal--hanya mampu menjangkau suara pada kisaran 20-20.000 Hz di luar itu kita meneyerah. Tapi apakah kita kemudian mengatakan, "Oh suara yang frekuensinya kurang dari 20 Hz ataulebih dari 20.00 Hz itu tidak ada karena saya tidak bisa dengar"?. Ternyata tidak, iIlmu pengetahuan bahkan membuktikan secara empiris dan akurat bahwa suara-suara itu ada.
Nah, keterbatsan ini juga berlaku untuk indera penglihatan.
Manusia memiliki batas jarak pandang. Sebagai contoh, bayangkan anda berdiri di tepi pantai dengan menghadap laut dan tidak terlihat apa-apa kecuali hamparan yang luas membiru. Orang yang menggunakan logikanya tidak akan mengatakan, "Oh, di ujung garis lurus itu tidak ada pulau lagi, karena tidak terlihat dari sini pulau itu."
Ia , dengan kesadaran penuh menyadari bahwa jangkauan matanya terbatas. Oleh karena itu mengklaim bahwa tidak ada pulau di ujung lautan sana karena tidak bisa dilihat sama saja dengan membodohi dirinya, dan merendahkan akalnya.
Jadi, begitupula dengan Dzat Allah, sangat tidak masuk akal orang yang mengatakan bahwa Alalh tidak ada hanya karena tidak bisa dilihat. Betapa mereka mengakui banyak hal yang tidak kelihatan, seperti magnet, listrik, perasaan cinta, marah, senang , dan lain sebagainya yang itu tidak kelihatan oleh mata. namun mereka percaya, karena ada fenomena-fenomena yang menunjukkan hal itu. Slahkan anda tunjukkan bentuk listrik itu seperti apa, anda tidak akan menemui jawabannya pada orang yang ahli kecuali mereka mengatakan, "Hanya ada medan listrik," dan seterusnya.
Bagaimana mungkin orang yang mengguankan akalnya, di satu sisi mengakui hal-hal itu , tapi menolak untuk menerapkannya pada Dzat Allah? Silahkan pikirkan, siapa yang salah? Bukti-bukti inikah atau cara berpikirkita yang salah??
4. Seseorang hanya bisa menghayalkan sesuatu yang sudah pernah dijangkau oleh inderanya.
Khayal manusia terbatas adanya. Anda tidak akan bisa membanyangkan sesuatu yang baru sama sekali. Bahkan dalam dunia desain sekalipun, seorang desainer abstrak mengambil ide dari hal-hal yang ada di sekelilingnya.
Anda boleh mengatakan lukisan si A abstrak. Tetapi cat air dan kanvas yang ia gunakan, bukankah membuktikan bahwa ia menggunakan inderanya?? Pemilihan warna yang ia lakukan diambil dari warna-warna yang sudah pernah ia lihat kemudian dicampur aduk menjadi sesuatu yang 'baru' menurut dia. Bahkan untuk menilai lukisan abstraknya, harus ada mata pengamat?? Nah darimana mereka menilai lukisan abstrak itu jikalau bukan dari pengalaman mereka menggunakan indera mereka??
Oleh karena itulah, anda tidak akan mungkin bisa membanyangkan sesuatu yang belum pernah diindera oleh anda. Misal, suara yang nadanya harum, parfum yang baunya merdu, dan lain sebagainya. Apa sebab?
Karena setiap indera anda terikat dengan hukum masing-masing dengan keterbatasan dan kekhususan yang pasti
5. Akal hanya bisa menjangkau hal-hal yang terikat dengan ruang dan waktu.
Ketika naik mobil dan melihat pohon di pinggir jalan, kita mungkin sempat berpikir, "Pohonya bergerak mundur". Tapi akal kita akan dengan cepat emngkoreksi, bahwa "Pohonnya diam, kita yang bergerak." Namun apakah akal akan selalu bisa menjangkau semuanya?? Ternyata tidak, akal pun hanya bisa menjangkau sesuatu yang terikat ruang dan waktu. Buktinya, silahkan anda sebutkan negeri yag dia tidak ada dimana-mana? Atau bisakah akal anda menjelaskan sesuatu peristiwa yang tidak terjadi di masa lalu, sekarang, atau yang akan datang?
6. Iman adalah fithrah (nurani) setiap manusia.
Setiap manusia memiliki fithrah untuk percaya pada Tuhan. Ambil contoh, ketika seseorang--yang tidak beriman sekalipun--tersesat dalam sebuah hutan sehingga ia kehilangan harapan hidup dan tidak ada siap-siapa, maka ia berharap ada sesuatu di luar dia untuk menolongnya. Dan pada saat itu, akalnya akan dengan cepat berputar untuk mengatakan padanya,
"Hei, jangan minta pada pohon atau tumbuhan atau binatang, karena kamu tahu mereka punya banyak keterbatasan, kamu bahkan lebih hebat dari mereka semua!!" Atau,
"Jangan minta pada bulan, matahari, batu, atau yang lainnya karena mereka semua benda mati. Benda mati itu tidak berkehendak. Ilmu pengetahuan yang berhasil kamu kumpulkan mengatakan itu semua!!"
Dan akalnya yang dimbing dengan nurani yang bersih akan mengatakan,
"Mintalah kamu kepada Sesuatu yang Dia memiliki kekuasaan yang tidak terbatas, Sesuatau yang Luar Biasa. Dan Dia haruslah yang Menciptakan, Mengendalikan, dan di luar alam semesta itu sendiri. Karena kalau bukan penciptanya,berarti dia tidak tahu seluk-beluk kamu, kalau dia tidak mengendalikan berarti dia tidak akan mampu menolong kamu--seperti halnya batu, bulan dan lain sebagainya itu--, dan kalau dia ada di alam semesta berarti dia terbatas, karena ilmu pengetahun yang kamu kumpulkan menunjukkan bahwa alam semesta ini tidak tak terbatas. Jadi mintalah kepada Dzat itu saja, yaitu kepada Allah semata!"
Bagaimanapun, fithrah ini hanya potensi dasar, ia harus dijaga, dikembangkan, dan dipelihara, karena ia bisa tertutupi oleh berbagai macam hal.
7. Kepuasan materiel di dunia sangat terbatas.
Manusia tidak akan puas dengan materiel. Contoh, seorang yang belum punya sepeda ingin punya sepeda. Setelah punya sepeda, ingin punya motor dan seterunya sampai mobil, pesawat, dan lain-lain.
Bila keinginannya tercapai dan kemudian berubah mejadi "biasa", maka keinginan itu tidak lagi mendatangkan kepuasan di dalam dirinya. Dia selalu ingin lebih dari apa yang didapatnya secara materiel. Oleh sebab itu, manusia butuh alam lain yang bukan di alam semesta ini--karena sekali lagi semuanya terbatas--untuk mendapatkan kepuasan hakiki yang tidak terbatas.
8. Keyakinan tentang Hari Akhir/Kiamat adalah konsekuensi logis dari keyakinan tentang adanya Allah.
Mengapa? Pertanyaan ini akan dijawab dengan pertanyaan dan jawaban. Sebagai berikut:
Jika Anda percaya Tuhan, maka anda harus percaya kalau Dia memiliki sifat-sifat Luar Biasa (Maha). Tentu jawaban anda, "Ya".
Baik kalau begitu, kemudian diantara sifatnya yang luar biasa itu adalah Maha Adil, yang pelaksanaan hukum dan sidang-Nya tanpa celah dan cacat sedikitpun? Sekali lagi anda akan menjawab, "Ya".
Nah, lalu kalau dikatakan dunia ini sudah cukup untuk menjadi pelaksanaan keadilan Allah, anda setuju?? Untuk ini barangkali anda akan menjawab sedikit ragu, "Bisa ya, bisa juga tidak" bergantung pengalaman anda.
Tapi, kalau kemudian saya bertanya lagi, berapa banyak penjahat, bandit, atau koruptor yang mati dengan lenggang kangkung tanpa sempat diadili?? Berapa banyak orang-orang teraniaya yang belum sempat mendapat haknya tapi keburu mati?? Bukankah ini menunjukkan bahwa keadilan Allah yang hakiki bukan di dunia ini, atau di alam semesta ini?? Tidak lain tidak bukan anda akan menjawa dengan jelas, "Ya".
Oleh karena itu, jika saya bertanya pada anda: Lalu berarti ada tempat lain yang bukan di alam semesta ini, dimana Allah akan menjalankan keadilan yang hakiki itu?? Maka sudah pasti anda akan menjawab, "Ya".
Berarti anda percaya, adanya hari akhir, khan?! Akan sangattidak masuk akal kalau anda tidak menjawab dengan, "Ya, saya percaya akan adanya hari akhir (kiamat)."
==========================
That's all..Semoga bermanfaat.
Mereka bermata tapi tidak melihat...
Bertelinga tapi tidak mendengar...
Berakal tapi tidak berpikir...
Berhati tapi tidak berperasaan...
Meraka itulah orang-orang yang menyesakan diri mereka sendiri dan membodohi diri mreka, sehingga mereka sesat dan bodoh, bahkan lebih sesat dan bodoh dari binanatang ternak...
Wallahu a'alam..
==========================
Rujukan penulisan:
1. Al-Quran Al-Karim
2. Fatwa-fatwa Rasulullah saw. dalam Masalah Aqidah oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
3. Kuliah Aqidah Islam oleh Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc.
4. Allah oleh Sayaikh Sa'id Hawaa
5. Pengantar Studi Aqidah Islam oleh Dr. Ibrahim Muhammad bin Abdullah Al-Buraikan
6. Allah dalam Aqidah Islam oleh Imam Hasan Al-Banna
7. Al-Utsul Ats-Tsalatsa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
8. Bahan kuliah Aqidah STIDDI Al-Hikmah oleh Al-Ustadz Arif Ma'ruf Lc.
9. Sumber lainnya.
No comments:
Post a Comment