Oleh
Asy-Syaikh Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan al-Buthy
Ini juga merupakan muqaddimah penting yang harus dikaji sebelum memasuki pembahasan-pembahasan sirah dan pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya, karena masalah ini mengandung hakikat yang sering dipalsukan oleh musuh-musuh Islam.
Secara singkat, hakikat tersebut ialah bahwa Islam hanyalah merupakan kelanjutan dari hanifiyah yang dibawa oleh abul-anbiya' (bapak para Nabi), Ibrahim 'alahis salam. Hakikat ini secara tegas telah dinyatakan oleh kitab Allah di banyak tempat, antara lain,
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong. (al-Hajj [22]: 78)
قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang musyrik. (Ali Imran [3]: 95)
Bangsa Arab adalah anak-anak Isma'il alahis salam. Karena itu, mereka mewarisi millah dan minhaj yang pernah dibawa oleh bapak mereka. Milah dan minhaj yang menyerukan tauhidullah, beribadah kepada-Nya, mematuhi hokum-hukum-Nya, menganggungkan tempat-tempat suci-Nya, khususnya Baitul Haram, menghormati syiar-syiar-Nya dan mempertahankan-Nya.
Setelah beberapa kurun waktu, mereka mulai mencampuradukkan kebenaran yang diwarisinya itu dengan kebatilan yang menyusup kepada mereka. Seprti semua umat dan bangsa, apabila telah dikuasai dan kebodohan dan dimasuki tukang-tukang sihir dan ahli kebatilan, masuklah kemuysrikan kepada mereka. Mereka kembali menyembah berhala-berhala.
Tradisi-tradisi buruk dan kebejatan moral pun tersebar luas. Akhirnya, mereka jauh dari cahaya tauhid dan ajaran hanifiya. Selama beberapa abad, mereka hidup dalam kehidupan jahiliah sampai akhirnya dating bi'tsah Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam.
Orang yang pertama memasukkan kemusyrikan kepada mereka dan mengajak mereka menyembah berhala adalah Amr bin Luhayyi bin Qam'ah, nenek moyang bani Khuza'ah.
Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim ibnul Harits at-Tamimi: Shalih as-Saman menderitakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda kepada Aktsam bin Jun al-Khuza'i, 'Wahai anak Aktsam, aku pernah melhat Amr bin Luhayyi bin Qam'ah bin Khandaf ditarik usus-ususnya ke dalam neraka. Aku tidak pernah melihat seorang pun mirip (wajahnya) dengannya kecuali kamu.' Aktsam lalu berkata, 'Apakah kemiripan rupa akan membahayakan aku, ya Rasulullah?' Rasulullah menjawab, 'Tidak, sebabkami Mukmin, sedangkan dia kafir. Sesungguhnya, dia adalah orang yang pertama mengubah agama Isma'il 'alahis salam. Selanjutnya, dia membuat patung-patung, memotong telinga binatang untuk dipersembahkan kepada thagut-thagut, menyembelih binatang untuk tuhatuhan mereka, membiarkan unta untuk sesembahan, dan memerintahkan untuk tidak menaiki unta tertentu karena keyakinan kepada berhala.'"
Ibnu Hisyam meriwayatkan bagaimana Amr bin Luhayyi ini memasukkan penyembahan berhala kepada bangsa Arab. Ia berkata, "Amr bin Luhayyi keluar Makkah ke Syam untuk suatu keperluannya. Ketika sampai di Ma'ab, di daerah BAlqa', pada waktu itu di tempat tersebut terdapat anak keturunan Amliq bin Laudz bin Sam bin Nuh. Dia melihat mreka menyembah berhala-berhala. Amr bin Luhayyi lalu berkata kepada mereka, 'Apakah berhala-berhala yang kamu sembah ini?' Mereka menjawab, 'Ini adalah berhala-berhala yang kami sembah. Kami meminta hujanh kepadanya lalu kami diberi hujan. Kami minta pertolongan kepadanya lalu kami ditolong.' Amr bin Luhayyi lalu berkata lagi, 'Bolehkan kamu berikan satu berhala kepadaku untuk aku bawa ke negeri Arab agar mereka (juga) menyembahnya?' Mereka pun memberikan satu berhala yang bernama Hubal lalu Amr membawanya pulang ke Makkah dan dipasanglah berhala tersebut. Selanjutnya, ia memerintahkan orang-orang untuk menyembah dan menghormatinya."
Demikianlah, penyembahan berhala dan kemusyrikan telah tersebar di JAzirah Arab. Mereka telah menginggalkan tauhif dan mengganti agama Ibrahim juga Isma'il dan yang lainnya. Akhirnya mereka mengalami kesesata, meyakini berbagai keyakina yang keliru, dan melakukan tindakan-tindakan yang buruk, sebagaimana umat-umat lainnya.
Mereka melakukan semua itu karena kebodohan, ke-ummi-an, dan keinginan membalasa terhadap kabilah-kabilah dan bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya.
Meskipun demikian, di antara mereka masih terdapat orang-orang, walaupun sedikit, yang berpegang teguh pada aqidah tauhid dan berjalan sesuai ajaran hanifiyah, yaitu meyakini hari kebangkitan, mempercayai bahwa Allah akan memberi pahala kepada orang-orang yang taat dan menyiksa orang-orang yang berbuat maksiat, membenci penyembah berhala yang dilakukan oleh orang-orang Arab, dan mengecam kesesatan pikiran dan tindakan-tindakan buruk lainnya. Di antara tokoh dan penganut sisa hanifiyah ini yang terkenal antara lain: Qais bin Sa'idah al-Ayadi, Ri'ab asy-Syani, dan pendeta Bahira.
Selain itu, dalam tradisi-tradisi mreka juga masih terdapat "sisa-sisa" prinsip agama yang hanif dan syiar-syiarnya kendatipun kian lama kian berkurang. Karena itu, kejahilan mereka, dalam hal dan keadaan tertentu, masih ter-shibghah (terwarnai) oleh pengaruh, prinsip-prinsip, dan syiar-syiar hanifiyah sekalipun syiar-syiar dan prinsip-prinsip tersebut hamper tidak tampak dalam kehidupan mereka kecuali sudah dalam bentuk yang tercemar. Seperti memuliakan Ka'bah, thawaf, haji, umrah, wuquf di Arafah, dan berqurban. Semua itu merupakan syariat dan wariasn peribadahan sejak Nabi Ibrahim 'alahis salam. Akan tetapi, pelaksanaannya tidak sesuai dengan ajaran yang sebenarnya. Banyak hal yang sudah ditambahkan, seperti talbiyah haji dan umrah. Kabilah Kinanah dan Quraisy dalam talbiyah-nya mengucapkan,
لَبَّيْكَ اللّٰهُمَّ لَبَيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، إِلاَّ شَرِيْكٌ هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَالِكٌ
"Aku sambut (seruan-Mu), ya Allah, aku sambut (seruan-Mu). Aku sambut (seruan-Mu), tiada sekutu kecuali sekutu yang memang (pantas) bagi-Mu, yang engkau dan dia miliki."
Setelah talbiyah ini, mereka membaca talbiyah yang mentauhidkan-Nya dan memasuki Ka'bah dengan membawa berhala-ebrhala mereka.
Sebagai kesimpulan, pertumbuhan sejarah Arab hanya berlangsung di dalam naungan hanifiyah samhah yang dibawa oleh Abul Anbiya', Ibrahim 'alahis salam. Pada mulanya, kehidupan mereka disinari oleh aqidah tauhid, cahaya petunjuk, dan keimanan. Setelah itu, sedikit demi sedikit bangsa Arab menjauhi kebenaran tersebut. Dalam kurun kehidupan yang cukup lama, akhirnya kehidupan mereka berbalik dalam kehidupan penuh dengan kegelapan, kemusyrikan, dan kesesatan pemikiran, kendatipun kebenaran rambu-rambu yang lama masih "bergeliat" dalam sejarah perjalanan mereka secara amat lamban, semakin lama semakin lemah dan berkurang pendukungnya.
Ketika cahaya ad-Din al-Hanif merebak kembali dengan bi'tsah penutup para Nabi (Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam), wahyu Ilahi datang menyentuh segala kegelapan dan kesesatan yang telah berakar selama rentang zaman tersebut, kemudian menghapuskan dan menyinarinya dengan cahaya iman tauhid dan prinsip-prisnsip keadilan, di samping menghidupkan kembali "sisa-sisa" hanifiyah yang ada.
Perlu ditegaskan di sini bahwa apa yang kami katakana ini merupakan suatu hal yang jelas bagi orang yang membaca sejarah dan mempelajari Islam. Akan tetapi, untuk masa sekarang ini, kit aterpakasa membuang banyak waktu untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat aksiomatik dan hal-hal yang kurang jelas karena adanya sebagian orang yang mengalahkan keyakinan-keyakinan mereka sekedar memperturutkan hawa nafsunya.
Ya, orang-orang seperti ini hidup tanpa memedulikan bahwa tindakan memperturutkan hawa nafsu tersebut hanya akan membelenggu akalnya dengan rantai-rantai perbudakan dan perbudakan pemikiran. Setiap orang pasti mengetahui betapa besar perbedaan orang yang meletakkan hawa nafsunya di belakang aqidahnya dan orang yang meletakkan aqidahnya di belakang hawa nafsunya.
Kendatipun apa yang kami kemukakan di atas sudah jelas, sebagian orang mengatakan bahwa jahiliah sudah mulai "menyadari" jalan terbaik yang harus diikutinya tidak lama sebelum
bi'tsah Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam. Pemikiran-pemikiran Arab sudah mulai menentang kemusyrikan, penyembahan berhala, dan segala khurafat jahiliah. Puncak kesadaran dan revolusi ini tercermin dengan bi'tsah Nabi shallallahu 'alahi wa sallam dan dakwahnya yang baru.
Makna dari pemikiran ini ialah sejarah jahiliyah semakin terbuka kapada hakikat-hakikat tauhid dan sinar hidayah. Semakin jauh dari zaman Ibrahim 'alahis salam, mereka semakin dekat dengan prinsip-prinsip dan dakwah Islam sehingga mencapai titik puncak pada bi'tsah Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam.
Setiap pengkaji dan pembahas yang objektif pasti mengetahui bahwa masa diutusnya Nabi shallallahu 'alahi wa sallam merupakan masa jahiliah yang paling jauh dari hidayah dakwah Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam jika dibandingkan dengan masa-masa yang lain. Reruntuhan rambu-rambu hanifiyah pada bangsa Arab di masa bi'tsah Nabi shallallahu 'alahi wa sallam tercermin pada percikan-percikan kebencian kepada berhala dan keengganan untuk menyembahnya atau keengganan menolak nilai-nilai Islam. "Sisa-sisa reruntuhan" ini tidak mencapai sepersepuluh dari apa yang muncul dengan jelas dalam kehidupan mereka beberapa abad sebelumnya. Sesuai dengan arti nubuwwah dan bi'tsah dalam pandangan orang-orang tersebut, semestinya bi'tsah Nabi shallallahu 'alahi wa sallam terjadi beberapa abad sebelumnya.
Ada pula yang mengatakan bahwa ketika Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam tidak mampu menghapuskan sebagian besar kebiasaan, tradisi, ritual, dan keyakinan yang ada pada bangsa Arab, beliau berusaha memberikan "baju" agama kepada semua hal tersebut dan menampilakannya dalam bentuk taklifat ilahiyah. Dengan ungkapan lain, Muhammad hanya menambahkan kepada sejumlah keyakinan ghabiyah bangsa Arab, suatu riqabah 'ulya (pengawasan tertinggi) yang berwujud Ilah yang Mahakuasa atas segala yang dikehendaki-Nya. Sesudah Islam, bangsa Arab masih terus meyakini sihir, jin, dan kepercayaan-kepercayaan serupa, sebagaimana halnya mereka masih melakukan thawaf di Ka'bah, memuliakan dan menunaikan ritual-ritual serta syiar-syiar tertentu yang tidak jauh berbeda dari yang dahulu mereka lakukan.
Tuduhan mereka ini sesungguhnya beranjak dari hipotesis. Pertama, Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam bukanlah Nabi. Kedua, "sisa-sisa" hanifiyah dari zaman Nabi Ibrahim yang terdapat di tengah-tengah kehidupan bangsa Arab yang kita bahas tadi hanyalah kreasi mereka dan tradisi yang mereka ciptakan sendiri. Penghormatan kepada Ka'bah dan pengagungannya bukanlah dari abul anbiya', Ibrahim 'alahis salam, melainkan hanya merupakan sesuatu yang diciptakan oleh sejumlah lingkungan Arab. Dengan demikian, ia hanyalah salah satu dari sejumlah tradisi bangsa Arab yang beraneka ragam.
Untuk mempertahankan kedua hipotesis tersebut, mereka terpaksa menolak semua bukti dan fakta sejarah yang akan membatalkan hipotesis mereka dan menyatakan kepalsuannya.
Akan tetapi, sebagaimana diketahui pencarian suatu hakikat itu tidak mungkin dapat dicapai oleh seseorang selama ia tidak mau menempuh jalan yang menuju kepadanya, kecuali dalam batas hipotesis yang apriori yang telah dibuatnya sebelum melakukan pembahasan apa pun. Tidak perlu dijelaskan bahwa pembahasan mereka hanya sepreti salah satu bentuk "permainan yang lucu".
Kita tidak bisa menolak sama sekali pemikiran tentang adanya bukti-bukti kenabian Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam yang beraneka ragam, seperti fenomena wahyu, mukjizat Al-Qur'an, dan fenomena kesucian dakwahnya dengan dakwah para Nabi terdahulu bersama sejumlah sifat dan akhlaqnya, hanya karena kita harus menerima hipotesis bahwa Muhammad bukan Nabi.
Kita juga tidak bisa menolak pemikiran sejarah yang menyatakan bahwa Ibrahim telah membangun Ka'bah yang muli atas perintah dan wahyu dari Allah Shubahanu wa Ta'ala. Kita tidak bisa menolak pemikiran sejarah yang menyatakan bahwa para Nabi secara berantai telah berdakwah kepada tauhidullah, meyakini masalah-masalah ghaib yang berkaitan dengan hari kemudian (kebangkitan), pembalasan, surge dan neraka yang telah disebutkan dalam nash-nash kitab Samawi yang telah dibenarkan oleh sejarah dan semua generasi, hanya karena kita harus menerima sebuah hipotesis yang menyatakan bahwa apa yang disebut "sisa-sisa zaman Ibrahim" pada masa Jahiliah itu tidak lain hanyalah tradisi yang diciptakan oleh pemikiran bangsa Arab dan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam hanya datang untuk "mengecatnya" dengan "cat agama".
Perlu diketahui bahwa orang-orang yang mengeluarkan tuduhan semacam ini tidak memiliki bukti dan dalil-dalil sama sekali. Mereka hanya mengemukakan lontaran-lontaran oemikiran yang tidak ilmiah sama sekali.
Jika anda memerlukan contohnya, bacalah buku Sitem Pemikiran Agama yang ditulis oleh seorang orientalis Inggris terkenal bernama H. A. R. Gibb. Di dalam buku ini, anda dapat mencium bau fanatisme buta terhadap orang-orang tersebut, fanatisme aneh yangt saling mendorong seseorang untuk menghindari faktor-faktor kehormatannya sendiri dan berlagak bodoh terhadap segudang dalil dan bukti yang nyata, hanya supaya tidak memaksanya untuk menerimanya.
Sistem pemikiran di dalam agama, menurut pandangan Gibb, tidaklah berbeda dengan kepercayaan pemikiran-pemikiran transdental yang ada dalam diri bansga Arab. Muhammad telah merenungkannya dan kemudian mengubah bagian-bagian yang diubahnya. Untuk hal-hal yang tidak dapat dihindarinya, dia telah menutupinya dengan "kain" agama Islam. Ia juga tidak lupa mendukungnya dengan suatu kerangka pemikiran dan sikap-sikap agama yang cocok. Di sinilah dia menghadapi kemuskilan besar. Dia ingin membangun kehidupan agama ini bukan hanya untuk bangsa Arab, melainkan untuk semua bangsa dan umat. Karena itu, dia tegakkan kehidupan agama ini dalam sistem Al-Qur'an. Itulah inti pemikiran Gibb di dalam bukunya tersebut.
Jika and abaca dari awal sampai akhir, anda tidak akan menemukan suatu argument pun yang dikemukakannya. Jika anda perhatikan pendapat yang dilontarkannya, anfa tidak meragukan lagi bahwa pada waktu menulis, dia telah membesituakan segala potensi intelektualnya dan sebagai gantinya, di agunakan daya khayalnya sepuas-puasnya.
Tampaknya, ketika menuliskan pengantar terjemahan Arabnya dia telah membayangkan bagaimana para pembaca akan menyerang pemikiran-pemikirannya yang telah menghina Islam tersebut. Karena itu, ia berkelit dengan mengatakan, "Sesungguhnya, pemikiran-pemikiran yang terkandung dalam buku ini bukanlah hasil pemikiran penulis, melainkan pemikiran yang sebelum ini telah dikemukakan oleh para pemikir dan kaum Muslimin yang terlalu banyak untuk dikemukakan di sini. Akan tetapi, cukup saya sebutkan salah seorang di antara mereka, yaitu Syekh Syah Waliyullah ad-Dahlawi.
Gibb kemudian mengutip suatu nash dari kitab Syek Syah Waliyullah ad-Dahlawi, Hujjatullah al-Balighah (1:122). Tampaknya, dia menyangka tak seorang pun dari pembaca akan memeriksa teks kitab tersebut lalu dengan sengaja dia ubah dan palsukan. Berikut teks yang telah diubah dan dipalsukan oleh Gibb.
"Sesungguhnya, Nabi Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam diutus dalam suatu bi'tsah yang meliputi bi'tsah lainnya. Yang pertama kepada Bani Israel. Bi'tsah ini mengharuskan agar materi syariatnya berupa syiar-syiar cara ibadah dan segi-segi kemanfaatan yang ada pada mereka. Hal ini karena syariat hanyalah merupakan perbaikan terhadap apa yang ada pada mereka, bukan pembebanan dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui sama sekali."
Padalah teks yang terdapat di dalam Hujjatullah al-Balighah secara utuh adalah sebagai berikut.
"Ketahuliah bahwa Nabi Muhammad diutus dengan membawa hanifiyah Isma'il untuk meluruskan kebengkokannya, membersihkan kepalsuannya, dan memancarkan sinarnya. Firman Allah, Millah orang tuamu Ibrahim. Karena itu, dasar-dasar millah tersebut harus diterima dan sunnah-sunnahnya harus ditetapkan. Hal ini karena Nabi shallallahu 'alahi wa sallam diutus pada suatu kaum yang masih terdapat pada mereka sisa sunnah yang terpimpin. Jadi tidak perlu mengubahnya atau menggantinya, bahkan wajib meletakkannya karena hal itu lebih disukai oleh mereka dan lebih kuat bila dijadikan hujja atas mereka. Anak-anak keturunan Isma'il mewarisi ajaran bapak mereka (Isma'il).
Mereka melaksanakan syari'at tersebut sampai datang Amr bin Luhayyi yang memasukkan pemikiran-pemikiran yang sesat dan menyesatkan. Ia (Amr bin Luhayyi) mensyariatkan penyembahan berhala dan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Sejak itulah agama menjadi rusak. Yang benar bercampur dengan yang batil sehingga kehidupan mereka dikuasai oleh kebodohan, kerusakan, dan kemusyrikan.
Allah lalu mengutus Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam untuk meluruskan kebengkokan mereka dan memperbaiki kerusakan mereka lalu Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam meninjau syari'at mereka. Apa yang sesuai dengan ajaran Isma'il atau syi'ar-syi'ar Allah, ditetapkannya. Apa yang telah rusak atau diubah, termasuk syiar kemusyrikan atau kebatilan, dibatalkannya dan dicatatnya pembatalan tersebut."
Tidak syak lagi bahwa kami tidak mengemukakan pendapat "pembahasan" ini untuk dibahas dan didiskusikan. Adalah sia-sia mendiskusikan omong kosong seperti ini. Akan tetapi, kami bermaksud agar para pembaca mengetahui sejauh mana fanatisme buta ini mempengaruhi seseorang. Hal inilah yang ingin penulis ingatkan, yaitu sejauh manakah metodologi dan objektivitas pembahasan ilmuwan Barat yang oleh sebagian orang diagung-agungkan itu.
Dari uraian terdahulu, jelaslah bagaimana kaitan antara Islam dan pemikiran jahiliah yang berkembang di kalangan orang Arab sebelum kedatangan Islam. Dapat diketahui pula bagaimana kaitan antara masa Jahiliah dan millah hanifiyah yang telah dibawa oleh Ibrahim 'alahis salam.
Dari sini dapat diketahui pula mengapa Rasulullah shallahu 'alahi wa sallam banyak menetapkan tradisi-tradisi dan prinsip-prinsip yang sebelumnya telah berkembang di kalangan orang Arab. Akan tetapi, pada waktu yang sama, Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam juga menghapuskan dan memerangi yang lainnya.
Dengan demikian, kami telah cukup menjelaskan beberapa muqaddimah yang diperlukan untuk melakukan kajian terhadap esensi Sirah Nabawiyah dan meng-istinbath fiqh dan pelajaran-pelajarannya.
Pada kajian-kajian mendatang, anda akan mendapatkan bukti dan penjelasan yang menegaskan apa yang telah kami kemukakan di atas.
Sumber:
Al-Buthy, Sa'id Ramadhan. 2006. Sirah Nabawiyah: Ananlisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW (terj.). Jakarta: Robbani Press.