Sunday, September 12, 2010

Ujilah Orang yang Pintar Bicara

Seandainya kita teliti sejauh mana penerapan ilmu yang penting ini, maka kit apasti menemukan lobang-lobang besar di dalam sejarah harakah Islamiyah Kontemporer, di mana terjadi penipuan dengan menampilkan para khatib, para pemegang ijazah yang tinggi, dan orang-orang terkenal, sebagai para pemimpin tanpa menguji mereka terlebih dahulu melalui pengalaman yang panjang. Dakwah berada dalam posisi sulit untuk mengaitkan mereka dengan nama dakwah. Dan barang tambang yang lemah senantiasa membongkar kedok dirinya melalui pantangan atau motivasi atau politik pergerakan yang menuntut intelektualitas untuk memahaminya, sehingga terjadi kemunduran.

Sesungguhnya keimanan, fiqih dakwah, keaktifan di dalam aktivitas tanzhim dan tarbiyah dan kejelasan ketaatan merupakan perkara-perkara pasti (muhkam) yang harus berlaku di dalam proses seleksi dan pemilihan amir, bukan dengan syarat-syarat jabatan pemerintahan dan pengetahuan akademik.

Bahkan, para da'I harus mewaspadai orang yang pintar bicara dan memaksakan diri untuk berbicara fasih. Karena kelemahan dan kemunafikan banyak ditemukan pada jenis manusia ini. da'I tidak boleh percaya sepenuhnya kepada seseorang dengan sifat ini, kecuali setelah mengujimnya, lalu mengawasinya dengan seksama. Tautsiq (penilaian tentang kelayakan) untuknya diberikan setelah menguji dan setelah meloihat tanda-tanda keimanan dan kebenaran imannya.

Dalam hal ini da'i punya teladan di masa lalu. Ketika Umar bin Khaththab radiyallahu 'anhu khawatir terhadap Ahnaf bin Qais radhiyallahu 'anhu—karena Ahnaf berbicara diplomatis dan mengagumkan. Umar menyuruhnya menetap di Madinah selama setahun untuk mengawasinya, kemudian Umar berkata kepadanya,

"Hai Ahnaf, aku telah mengujimu dan aku tidak melihat pada dirimu selain kebaikan. Aku melihat sisi luarmu baik, dan aku berharap sisi hatimu seperti sisi luarmu. Sesungguhnya kami berkata: yang merusak umat ini adalah setiap orang munafik yang pandai."

Umar bin Khaththab menulis surat kepada Abu Musa al-Asy'ari: amma ba'du, dekatilah Ahnaf bin Qais, ajaklah ia bermusyawarah, dan dengarlah pendapatnya."

Betapa banyak dakwah di dunia Islam pada hari ini dipenuhi oleh orang-orang yang harus diuji oleh para pemimpin dakwah, dan betapa besar kebutuhan pada da'I terhadap semacam pengetahuan Umar bin Khaththab ini.

Betapa banyak orang yang berbicara atas naman Islam dengan propaganda, tetapi ternyata mereka adalah orang-orang oportunis yang kering hati dan jiwa.

Benarlah apa yang dikatakan Abdul WAhhab 'Azzam:

Di tengah manusia ada wajah-wajah yang cerah

Memenuhi mata dengan bunga dan kesegaran

Namun orang yang bermata hati tajam

Melihatnya dalam wujud bunga

Yang tidak terhembus kehidupan dengan wewangian dan air.

Untuk hal semacam ini, kaum salafush shalih membiasakan pesan akan pentingnya pengujian semacam ini, seperti pemuka tabi'in Hasan al-Bashri.,

"Ujilah manusia dengan amal mereka dan tinggalkanlah ucapan mereka. Sesungguhnya Allah tidak membiarkan suatu ucapan kecuali Dia pasti menjadikan bukti untuknya berupa amal yang membernarkannya atau mendustakannya. Apabila kamu mendengar ucapan baik, maka jangan terburu meilai orang yang mengatakannya. Apabila amalanya sesuai dengan ucapannya, maka bersaudaralah dengannya dan cintailah dia. Dan apabila ucapannya bertentangan dengan amalnya, maka apa yang membuatmu ragu mengenainya, atau apa yang menghalangimu terhadapnya? Jangan sekali-kali ia mengelabuhimu."

Itulah pesan di masa lalu, tetapi hati lalai. Syahwat untuk cepat sampai atau syahwat untuk memperbanyak pendukung membuat lalai dan mengakibatkan kita melewatkan ilmu yang kita warisi.


 

Bahan bacaan lanjutan.

Ar-Rasyid, M. Ahmad. Titik Tolak (terj. Abu Sa'id al-Falahi). Jakarta: Robbani Press, cet.I, 2005, h. 311-313.

Tuesday, April 27, 2010

MENIMBANG HADITS PERPECAHAN UMAT ISLAM MENJADI 73 GOLONGAN

Oleh

Dr. Yusuf al-Qaradhawi

Tulisan ini diketik ulang dan diberi beberapa tambahan catatan kaki oleh Amin Ilyas

Terdapat hadits tentang perpecahan umat menjadi lebih dari 73 golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan. Hadits ini masih dipertanyakan keabsahan riwayatnya.

A. Hadits ini Tidak Terdapat Dalam Ash-Shahihain

Pertama, harus diketahui bahwa hadits ini tidak terdapat sama sekali dalam kitab ash-Shahihain, padahal masalahnya sangat penting. Ini berarti hadits tersebut tidak shahih menurut salah satu syarat keduanya (Bukhari dan Muslim).

Sekalipun kitab ash-Shahihain tidak mencakup seluruh hadits shahih, keduanya tidak pernah meninggalkan masalah penting. Pasti akan disebutkan di dalamnya walaupun hanya satu hadits.

B. Hadist Perpecahan Umat Islam menjadi 73 Golongan

Sebagian riwayat hadits tersebut tidak menyebutkan "semua golongan akan masuk neraka kecuali satu", tetapi hanya menyebutkan perpecahan dan jumlah golongan yang muncul.

Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Hakim.

افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى - أَوْ ثِنْتَيْنِ - وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتْ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى - أَوْ ثِنْتَيْنِ - وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً.

"Orang-orang Yahudi berpecah belah menjadi 71 atau 72 golongan, orang-orang Nasrani berpecah belah menjadi 71 atau 71 golongan, sedangkan umatku bepecah belah menjadi 73 golongan."

Hadits ini dinyatakan hasan shahih oleh Tirmidzi serta disahihkan pula oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim. Riwayatnya dari jalan Muhammad bin Amr bin Alqamah bin Waqqash al-laits. Siapa saja yang membaca riwayat hidupnya di dalam Tahdzibut Tahzib pasti akan mengetahui bahwa dia seorang yang dipermasalahkan dari segi hafalannya, bahkan tidak ada yang menilainya sebagai orang yang tsiqat (terpercaya). Semua ahli hadits menyebutkan bahwa dia lebih kuat dari orang yang lebih lemah darinya. Karena itu, al-Hafizh (Ibnu hajar—peny.) di dalam kitab at-Taqrib mengatakan, "Dia orang yang jujur, tetapi banyak keraguan." Dalam masalah ini, kejujuran saja belum cukup bila tidak didukung dengan kekuatan hafalan (dhabt), apalagi dia termasuk orang yang banyak keraguan.

Perlu diketahui bahwa Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim adalah termasuk para perawi yang sangat gampang mensahihkan suatu hadits. Khususnya al-Hakim, ia sangat longgar dalam mensyaratkan sebuah hadits sahih.

Di sini, al-Hakim mensahihkan hadits tersebut (hadits riwayat Abu Hurairah—peny.) menurut syarat Muslim karena Muhammad bin Amr adalah perawi yang dipakai oleh Muslim. Akan tetapi, adz-Dzahabi menolaknya karena Muslim tidak pernah memakainya dalam satu riwayat tersendiri. Adapun hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah tidak menyebutkan tambahan "semua golongan masuk neraka" yang menjadi biang permasalah tersebut.

Hadits dengan tambahan tersebut diriwayatkan dari sejumlah sahabat: Abdullah bin Amr, Mu'awiyah, Auf bin Malik, dan Anas radhiyallahu 'anhum, tetapi semuanya bersanad lemah. Para perawi hadits menguatkannya hanya dengan jalan menghubungkan yang satu dengan yang lainnya.

Menurut saya, menguatkan suatu hadits (lemah) hanya karena banyak riwayat tidak mutlak bisa diterima. Berapa banyak suatu hadits yang diriwayatkan dari beberapa jalan, tetapi tetap dilemahkan oleh para ahli hadits. Hal ini dapat dibaca pada kitab-kitab takhrij dan lainnya. Cara tersebut (menguatkan suatu hadits [lemah] hanya karena banyak riwayat) dapat diterima, manakala tidak ada hadits lain yang menentangnya dan maknanya tidak menimbulkan kemusykilan.

Adapun hadits tersebut cukup menimbulkan kemusykilan. Di satu segi menyatakan perpecahan Yahudi dan Nasrani dan di lain segi menyatakan bahwa semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan. Pernyataan yang kedua ini membuka peluang bagi masing-masing golongan untuk mengklaim bahwa dirinya adalah golongan yang selamat, sedangkan golongan lainnya masuk neraka. Ini jelas akan menimbulkan perpecahan umat dan permusuhan antarsesamanya.

Karena itu, al-Allamah Ibnul Wazir melemahkan hadits ini secara keseluruhan, khususnya tambahannya karena hadits teresbut akan mengakibatkan saling menyesatkan dan saling mengkafirkan di kalangan umat Islam.

Setelah membahas keutamaan umat Islam dan memperingatkan agar menjauhi takfir (mengkafirkan) sesama umat, di dalam kitabnya al-'Awashim, Ibnul Wazir berkata, "Janganlah sampai [a]nda tertipu oleh (hadits lemah yang menyatakan) 'semuanya di neraka kecuali satu golongan.' Itu adalah tambahan yang batil dan tidak benar, bahkanb merupakan rekayasa orang-orang mulhid (antiagama)."

Selanjutnya, Ibnul Wazir berkata, "Dari Ibnu Hazm, ini adalah hadits palsu. Tidak mauquf (sampai kepada sahabat), juga tidak marfu' (sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam). Demikian pula hadits-hadits tentang celaan terhadap Qadariah, Marju'ah, dan Asy'ariah. Semuanya adalah hadits-hadits dhaif dan tidak kuat."

C. Pandangan Ulama Terdahulu dan Sekarang tentang Hadits 73 Golongan

Di kalangan ulama terdahulu dan sekarang ada yang menolak hadits tersebut, baik dari segi sanadnya maupun dari segi matan dan maknanya.

Ibnu Hazm

Abu Muhammad Ibnu Hazm menolak orang ang mengafirkan orang lain karena perbedaan masalah-masalah keyakinan. Di antara hal-hal yang dijadikan hujjah untuk mengkafirkan orang lain, kata Ibnu Hazm, adalah hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam

  1. "Golongan Qadariah dan Murji'ah adalah Majusinya umat ini."
  2. "Umat ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh lebih golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu akan masuk surga."

Abu Muhammad Ibnu Hazm berkata, "Kedua hadits ini dari segi sanadnya sama sekali tidak sah. Hadits seperti ini tidak akan dapat dijadikan hujjah menurut orang yang menerima khabar wahid (hadits ahad), apalagi menurut orang yang tidak menerima khabar wahid.

Ibnul Wazir

Al-Imam al-Yamani al-Mujtahid, pembela sunnah yang memadukan antara yang ma'qul (kontekstual) dan manqul (tekstual) serta Muhammad bin Ibrahim al-Wazir (wafat 840 H) di dalam kitabnya al-Awashim wal-Qawashim, menilai, "Di dalam sanadnya terdapat Nashibi. Hadits yang diriwayatkannya tidak sah."

Tirmidzi juga meriwayatkan hadits seperti ini dari Abdullah bin Amr ibnul 'Ash kemudian ia (Tirmidzi) berkata, "Hadits gharib." Ia menyebutkannya di dalam bab 'Keimanan' dari jalan al-Afriki (Abdullah Rahman bin Ziyad) dari Abdullah bin Yazid.

Ibnu Majah meriwayatkan hadits serupa dari Auf bin Malik dan Anas. Ibnul Wazir berkata, "Riwayat-riwayat tersebut sama sekali tidak sesuai dengan syarat hadits sahih. Karena itu Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya sama sekali. Tirmidzi mensahihkan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah dari Jalan Muhammad bin Amr bin Alqamah dengan tidak menyebutkan 'Semua di neraka kecuali satu golongan.' Ibnu Hazm mengatakan, 'Tambahan ini adalah palsu.' Hal ini disebutkan oleh pengarang kitab al-Badrul Munir."

Ibnu Katsir

Ketika menafsirkan ayat,

÷rr&
öNä3|¡Î6ù=tƒ
$YèuÏ©
tÉãƒur
/ä3ŸÒ÷èt/
}¨ù't/
CÙ÷èt/
3

"…atau Dia mencapur kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain …" (al-An'am [6]: 65)

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, "Disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan dari beberapa jalan dari Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bahwa beliau bersabda, "Umat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya di dalam neraka kecuali satu golongan." Ibnu katsir tidak menyebutkan hadits ini sahih atau hasan, bahkan tidak menambahkan penjelasan lainnya selain dari apa yang dikatakannya tersebut, padahal secara panjang lebar ia menafsirkan ayat tersebut dengan menyebutkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang sesuai dengannya.

D. Menyikapi Pendapat yang Menghasankan atau Mensahihkan hadits tersebut

Sebagian ulama menghasankan hadits tersebut, seperti al-Hafizh ibnu Hajar atau mensahihkannya seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah karena banyaknya riwayat yang menyebutkannya. Sekalipun demikian, hadits tersebut tidak menunjukkan bahwa perpecahan itu dengan bentuk dan jumlah yang disebutkan merupakan suatu keadaan yang abadi hingga hari kiamat. Bila pada suatu masa telah muncul perpecahan, cukuplah itu sebagai bukti kebenaran hadits tersebut.

Bisa jadi, sebagian dari golongan-golongan itu telah muncul kemudian berhasil ditumbangkan oleh kebenaran sehinga lenyap untuk selama-lamanya. Inilah yang secara riil terjadi pada golongan-golongan yang menyimpang (al-Firqatul Munharifah). Sebagian darinya telah lenyap dan tidak punya eksistensi lagi.

Selain itu, hadits tersebut menunjukkan bahwa semua golongan itu adalah bagian dari umat Nabi shallallahu 'alahi wa sallam, yakni Ummatul Ijabah yang dinisbatkan kepadanya (Nabi shallallahu 'alahi wa sallam). Hal ini karena Nabi shallallahu 'alahi wa sallam menyebutkan, "Umatku akan berpecah belah." Ini berarti golongan-golongan itu—kendatipun banyak melakukan bid'ah—tidak keluar dari millah (agama) dan tidak pula lepas dari tubuh umat Islam.

Adapun keberadaan mereka nanti "di neraka", tidak berarti akan tinggal di dalamnya untuk selama-lamanya sebagaimana orang-orang kafir, tetapi mereka akan masuk ke dalam neraka sebagaimana orang-orang Mukmin yang melakukan maksiat.

Bahkan mungkin saja mereka akan mendapatkan syafa'at dari orang yang berhak menerima syafa'at dari para Nabi atau Malaikat atau orang-orang Mukmin. Mungkin juga mereka mempunyai kebaikan-kebaikan yang dapat menghapuskan dosa-dosanya atau mengalami cobaan-cobaan dan musibah-musibah yang dapat menutupi segala kesalahannya sehingga terlindung dari siksa.

Mungkin juga Allah akan mengampuni mereka dengan karunia dan kasih sayang-Nya, khususnya jika mereka sudah mengerahkan segala upayayanya untuk mencati kebenaran, tetapi mereka belum mendapatkannya atau salah jalan. Allah sendiritelah mengampuni dosa umat yang disebabkan oleh kekeliruan, kealpaan, dan pemaksaan.

Monday, February 22, 2010

JAHILIYAH DAN SISA-SISA HANAFIYAH

Oleh

Asy-Syaikh Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan al-Buthy


 

Ini juga merupakan muqaddimah penting yang harus dikaji sebelum memasuki pembahasan-pembahasan sirah dan pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya, karena masalah ini mengandung hakikat yang sering dipalsukan oleh musuh-musuh Islam.

Secara singkat, hakikat tersebut ialah bahwa Islam hanyalah merupakan kelanjutan dari hanifiyah yang dibawa oleh abul-anbiya' (bapak para Nabi), Ibrahim 'alahis salam. Hakikat ini secara tegas telah dinyatakan oleh kitab Allah di banyak tempat, antara lain,

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong. (al-Hajj [22]: 78)

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang musyrik. (Ali Imran [3]: 95)

Bangsa Arab adalah anak-anak Isma'il alahis salam. Karena itu, mereka mewarisi millah dan minhaj yang pernah dibawa oleh bapak mereka. Milah dan minhaj yang menyerukan tauhidullah, beribadah kepada-Nya, mematuhi hokum-hukum-Nya, menganggungkan tempat-tempat suci-Nya, khususnya Baitul Haram, menghormati syiar-syiar-Nya dan mempertahankan-Nya.

Setelah beberapa kurun waktu, mereka mulai mencampuradukkan kebenaran yang diwarisinya itu dengan kebatilan yang menyusup kepada mereka. Seprti semua umat dan bangsa, apabila telah dikuasai dan kebodohan dan dimasuki tukang-tukang sihir dan ahli kebatilan, masuklah kemuysrikan kepada mereka. Mereka kembali menyembah berhala-berhala.

Tradisi-tradisi buruk dan kebejatan moral pun tersebar luas. Akhirnya, mereka jauh dari cahaya tauhid dan ajaran hanifiya. Selama beberapa abad, mereka hidup dalam kehidupan jahiliah sampai akhirnya dating bi'tsah Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam.

Orang yang pertama memasukkan kemusyrikan kepada mereka dan mengajak mereka menyembah berhala adalah Amr bin Luhayyi bin Qam'ah, nenek moyang bani Khuza'ah.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim ibnul Harits at-Tamimi: Shalih as-Saman menderitakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda kepada Aktsam bin Jun al-Khuza'i, 'Wahai anak Aktsam, aku pernah melhat Amr bin Luhayyi bin Qam'ah bin Khandaf ditarik usus-ususnya ke dalam neraka. Aku tidak pernah melihat seorang pun mirip (wajahnya) dengannya kecuali kamu.' Aktsam lalu berkata, 'Apakah kemiripan rupa akan membahayakan aku, ya Rasulullah?' Rasulullah menjawab, 'Tidak, sebabkami Mukmin, sedangkan dia kafir. Sesungguhnya, dia adalah orang yang pertama mengubah agama Isma'il 'alahis salam. Selanjutnya, dia membuat patung-patung, memotong telinga binatang untuk dipersembahkan kepada thagut-thagut, menyembelih binatang untuk tuhatuhan mereka, membiarkan unta untuk sesembahan, dan memerintahkan untuk tidak menaiki unta tertentu karena keyakinan kepada berhala.'"

Ibnu Hisyam meriwayatkan bagaimana Amr bin Luhayyi ini memasukkan penyembahan berhala kepada bangsa Arab. Ia berkata, "Amr bin Luhayyi keluar Makkah ke Syam untuk suatu keperluannya. Ketika sampai di Ma'ab, di daerah BAlqa', pada waktu itu di tempat tersebut terdapat anak keturunan Amliq bin Laudz bin Sam bin Nuh. Dia melihat mreka menyembah berhala-berhala. Amr bin Luhayyi lalu berkata kepada mereka, 'Apakah berhala-berhala yang kamu sembah ini?' Mereka menjawab, 'Ini adalah berhala-berhala yang kami sembah. Kami meminta hujanh kepadanya lalu kami diberi hujan. Kami minta pertolongan kepadanya lalu kami ditolong.' Amr bin Luhayyi lalu berkata lagi, 'Bolehkan kamu berikan satu berhala kepadaku untuk aku bawa ke negeri Arab agar mereka (juga) menyembahnya?' Mereka pun memberikan satu berhala yang bernama Hubal lalu Amr membawanya pulang ke Makkah dan dipasanglah berhala tersebut. Selanjutnya, ia memerintahkan orang-orang untuk menyembah dan menghormatinya."

Demikianlah, penyembahan berhala dan kemusyrikan telah tersebar di JAzirah Arab. Mereka telah menginggalkan tauhif dan mengganti agama Ibrahim juga Isma'il dan yang lainnya. Akhirnya mereka mengalami kesesata, meyakini berbagai keyakina yang keliru, dan melakukan tindakan-tindakan yang buruk, sebagaimana umat-umat lainnya.

Mereka melakukan semua itu karena kebodohan, ke-ummi-an, dan keinginan membalasa terhadap kabilah-kabilah dan bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya.

Meskipun demikian, di antara mereka masih terdapat orang-orang, walaupun sedikit, yang berpegang teguh pada aqidah tauhid dan berjalan sesuai ajaran hanifiyah, yaitu meyakini hari kebangkitan, mempercayai bahwa Allah akan memberi pahala kepada orang-orang yang taat dan menyiksa orang-orang yang berbuat maksiat, membenci penyembah berhala yang dilakukan oleh orang-orang Arab, dan mengecam kesesatan pikiran dan tindakan-tindakan buruk lainnya. Di antara tokoh dan penganut sisa hanifiyah ini yang terkenal antara lain: Qais bin Sa'idah al-Ayadi, Ri'ab asy-Syani, dan pendeta Bahira.

Selain itu, dalam tradisi-tradisi mreka juga masih terdapat "sisa-sisa" prinsip agama yang hanif dan syiar-syiarnya kendatipun kian lama kian berkurang. Karena itu, kejahilan mereka, dalam hal dan keadaan tertentu, masih ter-shibghah (terwarnai) oleh pengaruh, prinsip-prinsip, dan syiar-syiar hanifiyah sekalipun syiar-syiar dan prinsip-prinsip tersebut hamper tidak tampak dalam kehidupan mereka kecuali sudah dalam bentuk yang tercemar. Seperti memuliakan Ka'bah, thawaf, haji, umrah, wuquf di Arafah, dan berqurban. Semua itu merupakan syariat dan wariasn peribadahan sejak Nabi Ibrahim 'alahis salam. Akan tetapi, pelaksanaannya tidak sesuai dengan ajaran yang sebenarnya. Banyak hal yang sudah ditambahkan, seperti talbiyah haji dan umrah. Kabilah Kinanah dan Quraisy dalam talbiyah-nya mengucapkan,

لَبَّيْكَ اللّٰهُمَّ لَبَيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، إِلاَّ شَرِيْكٌ هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَالِكٌ

"Aku sambut (seruan-Mu), ya Allah, aku sambut (seruan-Mu). Aku sambut (seruan-Mu), tiada sekutu kecuali sekutu yang memang (pantas) bagi-Mu, yang engkau dan dia miliki."

Setelah talbiyah ini, mereka membaca talbiyah yang mentauhidkan-Nya dan memasuki Ka'bah dengan membawa berhala-ebrhala mereka.

Sebagai kesimpulan, pertumbuhan sejarah Arab hanya berlangsung di dalam naungan hanifiyah samhah yang dibawa oleh Abul Anbiya', Ibrahim 'alahis salam. Pada mulanya, kehidupan mereka disinari oleh aqidah tauhid, cahaya petunjuk, dan keimanan. Setelah itu, sedikit demi sedikit bangsa Arab menjauhi kebenaran tersebut. Dalam kurun kehidupan yang cukup lama, akhirnya kehidupan mereka berbalik dalam kehidupan penuh dengan kegelapan, kemusyrikan, dan kesesatan pemikiran, kendatipun kebenaran rambu-rambu yang lama masih "bergeliat" dalam sejarah perjalanan mereka secara amat lamban, semakin lama semakin lemah dan berkurang pendukungnya.

Ketika cahaya ad-Din al-Hanif merebak kembali dengan bi'tsah penutup para Nabi (Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam), wahyu Ilahi datang menyentuh segala kegelapan dan kesesatan yang telah berakar selama rentang zaman tersebut, kemudian menghapuskan dan menyinarinya dengan cahaya iman tauhid dan prinsip-prisnsip keadilan, di samping menghidupkan kembali "sisa-sisa" hanifiyah yang ada.

Perlu ditegaskan di sini bahwa apa yang kami katakana ini merupakan suatu hal yang jelas bagi orang yang membaca sejarah dan mempelajari Islam. Akan tetapi, untuk masa sekarang ini, kit aterpakasa membuang banyak waktu untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat aksiomatik dan hal-hal yang kurang jelas karena adanya sebagian orang yang mengalahkan keyakinan-keyakinan mereka sekedar memperturutkan hawa nafsunya.

Ya, orang-orang seperti ini hidup tanpa memedulikan bahwa tindakan memperturutkan hawa nafsu tersebut hanya akan membelenggu akalnya dengan rantai-rantai perbudakan dan perbudakan pemikiran. Setiap orang pasti mengetahui betapa besar perbedaan orang yang meletakkan hawa nafsunya di belakang aqidahnya dan orang yang meletakkan aqidahnya di belakang hawa nafsunya.

Kendatipun apa yang kami kemukakan di atas sudah jelas, sebagian orang mengatakan bahwa jahiliah sudah mulai "menyadari" jalan terbaik yang harus diikutinya tidak lama sebelum
bi'tsah Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam. Pemikiran-pemikiran Arab sudah mulai menentang kemusyrikan, penyembahan berhala, dan segala khurafat jahiliah. Puncak kesadaran dan revolusi ini tercermin dengan bi'tsah Nabi shallallahu 'alahi wa sallam dan dakwahnya yang baru.

Makna dari pemikiran ini ialah sejarah jahiliyah semakin terbuka kapada hakikat-hakikat tauhid dan sinar hidayah. Semakin jauh dari zaman Ibrahim 'alahis salam, mereka semakin dekat dengan prinsip-prinsip dan dakwah Islam sehingga mencapai titik puncak pada bi'tsah Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam.

Setiap pengkaji dan pembahas yang objektif pasti mengetahui bahwa masa diutusnya Nabi shallallahu 'alahi wa sallam merupakan masa jahiliah yang paling jauh dari hidayah dakwah Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam jika dibandingkan dengan masa-masa yang lain. Reruntuhan rambu-rambu hanifiyah pada bangsa Arab di masa bi'tsah Nabi shallallahu 'alahi wa sallam tercermin pada percikan-percikan kebencian kepada berhala dan keengganan untuk menyembahnya atau keengganan menolak nilai-nilai Islam. "Sisa-sisa reruntuhan" ini tidak mencapai sepersepuluh dari apa yang muncul dengan jelas dalam kehidupan mereka beberapa abad sebelumnya. Sesuai dengan arti nubuwwah dan bi'tsah dalam pandangan orang-orang tersebut, semestinya bi'tsah Nabi shallallahu 'alahi wa sallam terjadi beberapa abad sebelumnya.

Ada pula yang mengatakan bahwa ketika Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam tidak mampu menghapuskan sebagian besar kebiasaan, tradisi, ritual, dan keyakinan yang ada pada bangsa Arab, beliau berusaha memberikan "baju" agama kepada semua hal tersebut dan menampilakannya dalam bentuk taklifat ilahiyah. Dengan ungkapan lain, Muhammad hanya menambahkan kepada sejumlah keyakinan ghabiyah bangsa Arab, suatu riqabah 'ulya (pengawasan tertinggi) yang berwujud Ilah yang Mahakuasa atas segala yang dikehendaki-Nya. Sesudah Islam, bangsa Arab masih terus meyakini sihir, jin, dan kepercayaan-kepercayaan serupa, sebagaimana halnya mereka masih melakukan thawaf di Ka'bah, memuliakan dan menunaikan ritual-ritual serta syiar-syiar tertentu yang tidak jauh berbeda dari yang dahulu mereka lakukan.

Tuduhan mereka ini sesungguhnya beranjak dari hipotesis. Pertama, Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam bukanlah Nabi. Kedua, "sisa-sisa" hanifiyah dari zaman Nabi Ibrahim yang terdapat di tengah-tengah kehidupan bangsa Arab yang kita bahas tadi hanyalah kreasi mereka dan tradisi yang mereka ciptakan sendiri. Penghormatan kepada Ka'bah dan pengagungannya bukanlah dari abul anbiya', Ibrahim 'alahis salam, melainkan hanya merupakan sesuatu yang diciptakan oleh sejumlah lingkungan Arab. Dengan demikian, ia hanyalah salah satu dari sejumlah tradisi bangsa Arab yang beraneka ragam.

Untuk mempertahankan kedua hipotesis tersebut, mereka terpaksa menolak semua bukti dan fakta sejarah yang akan membatalkan hipotesis mereka dan menyatakan kepalsuannya.

Akan tetapi, sebagaimana diketahui pencarian suatu hakikat itu tidak mungkin dapat dicapai oleh seseorang selama ia tidak mau menempuh jalan yang menuju kepadanya, kecuali dalam batas hipotesis yang apriori yang telah dibuatnya sebelum melakukan pembahasan apa pun. Tidak perlu dijelaskan bahwa pembahasan mereka hanya sepreti salah satu bentuk "permainan yang lucu".

Kita tidak bisa menolak sama sekali pemikiran tentang adanya bukti-bukti kenabian Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam yang beraneka ragam, seperti fenomena wahyu, mukjizat Al-Qur'an, dan fenomena kesucian dakwahnya dengan dakwah para Nabi terdahulu bersama sejumlah sifat dan akhlaqnya, hanya karena kita harus menerima hipotesis bahwa Muhammad bukan Nabi.

Kita juga tidak bisa menolak pemikiran sejarah yang menyatakan bahwa Ibrahim telah membangun Ka'bah yang muli atas perintah dan wahyu dari Allah Shubahanu wa Ta'ala. Kita tidak bisa menolak pemikiran sejarah yang menyatakan bahwa para Nabi secara berantai telah berdakwah kepada tauhidullah, meyakini masalah-masalah ghaib yang berkaitan dengan hari kemudian (kebangkitan), pembalasan, surge dan neraka yang telah disebutkan dalam nash-nash kitab Samawi yang telah dibenarkan oleh sejarah dan semua generasi, hanya karena kita harus menerima sebuah hipotesis yang menyatakan bahwa apa yang disebut "sisa-sisa zaman Ibrahim" pada masa Jahiliah itu tidak lain hanyalah tradisi yang diciptakan oleh pemikiran bangsa Arab dan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam hanya datang untuk "mengecatnya" dengan "cat agama".

Perlu diketahui bahwa orang-orang yang mengeluarkan tuduhan semacam ini tidak memiliki bukti dan dalil-dalil sama sekali. Mereka hanya mengemukakan lontaran-lontaran oemikiran yang tidak ilmiah sama sekali.

Jika anda memerlukan contohnya, bacalah buku Sitem Pemikiran Agama yang ditulis oleh seorang orientalis Inggris terkenal bernama H. A. R. Gibb. Di dalam buku ini, anda dapat mencium bau fanatisme buta terhadap orang-orang tersebut, fanatisme aneh yangt saling mendorong seseorang untuk menghindari faktor-faktor kehormatannya sendiri dan berlagak bodoh terhadap segudang dalil dan bukti yang nyata, hanya supaya tidak memaksanya untuk menerimanya.

Sistem pemikiran di dalam agama, menurut pandangan Gibb, tidaklah berbeda dengan kepercayaan pemikiran-pemikiran transdental yang ada dalam diri bansga Arab. Muhammad telah merenungkannya dan kemudian mengubah bagian-bagian yang diubahnya. Untuk hal-hal yang tidak dapat dihindarinya, dia telah menutupinya dengan "kain" agama Islam. Ia juga tidak lupa mendukungnya dengan suatu kerangka pemikiran dan sikap-sikap agama yang cocok. Di sinilah dia menghadapi kemuskilan besar. Dia ingin membangun kehidupan agama ini bukan hanya untuk bangsa Arab, melainkan untuk semua bangsa dan umat. Karena itu, dia tegakkan kehidupan agama ini dalam sistem Al-Qur'an. Itulah inti pemikiran Gibb di dalam bukunya tersebut.

Jika and abaca dari awal sampai akhir, anda tidak akan menemukan suatu argument pun yang dikemukakannya. Jika anda perhatikan pendapat yang dilontarkannya, anfa tidak meragukan lagi bahwa pada waktu menulis, dia telah membesituakan segala potensi intelektualnya dan sebagai gantinya, di agunakan daya khayalnya sepuas-puasnya.

Tampaknya, ketika menuliskan pengantar terjemahan Arabnya dia telah membayangkan bagaimana para pembaca akan menyerang pemikiran-pemikirannya yang telah menghina Islam tersebut. Karena itu, ia berkelit dengan mengatakan, "Sesungguhnya, pemikiran-pemikiran yang terkandung dalam buku ini bukanlah hasil pemikiran penulis, melainkan pemikiran yang sebelum ini telah dikemukakan oleh para pemikir dan kaum Muslimin yang terlalu banyak untuk dikemukakan di sini. Akan tetapi, cukup saya sebutkan salah seorang di antara mereka, yaitu Syekh Syah Waliyullah ad-Dahlawi.

Gibb kemudian mengutip suatu nash dari kitab Syek Syah Waliyullah ad-Dahlawi, Hujjatullah al-Balighah (1:122). Tampaknya, dia menyangka tak seorang pun dari pembaca akan memeriksa teks kitab tersebut lalu dengan sengaja dia ubah dan palsukan. Berikut teks yang telah diubah dan dipalsukan oleh Gibb.

"Sesungguhnya, Nabi Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam diutus dalam suatu bi'tsah yang meliputi bi'tsah lainnya. Yang pertama kepada Bani Israel. Bi'tsah ini mengharuskan agar materi syariatnya berupa syiar-syiar cara ibadah dan segi-segi kemanfaatan yang ada pada mereka. Hal ini karena syariat hanyalah merupakan perbaikan terhadap apa yang ada pada mereka, bukan pembebanan dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui sama sekali."

Padalah teks yang terdapat di dalam Hujjatullah al-Balighah secara utuh adalah sebagai berikut.

"Ketahuliah bahwa Nabi Muhammad diutus dengan membawa hanifiyah Isma'il untuk meluruskan kebengkokannya, membersihkan kepalsuannya, dan memancarkan sinarnya. Firman Allah, Millah orang tuamu Ibrahim. Karena itu, dasar-dasar millah tersebut harus diterima dan sunnah-sunnahnya harus ditetapkan. Hal ini karena Nabi shallallahu 'alahi wa sallam diutus pada suatu kaum yang masih terdapat pada mereka sisa sunnah yang terpimpin. Jadi tidak perlu mengubahnya atau menggantinya, bahkan wajib meletakkannya karena hal itu lebih disukai oleh mereka dan lebih kuat bila dijadikan hujja atas mereka. Anak-anak keturunan Isma'il mewarisi ajaran bapak mereka (Isma'il).

Mereka melaksanakan syari'at tersebut sampai datang Amr bin Luhayyi yang memasukkan pemikiran-pemikiran yang sesat dan menyesatkan. Ia (Amr bin Luhayyi) mensyariatkan penyembahan berhala dan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Sejak itulah agama menjadi rusak. Yang benar bercampur dengan yang batil sehingga kehidupan mereka dikuasai oleh kebodohan, kerusakan, dan kemusyrikan.

Allah lalu mengutus Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam untuk meluruskan kebengkokan mereka dan memperbaiki kerusakan mereka lalu Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam meninjau syari'at mereka. Apa yang sesuai dengan ajaran Isma'il atau syi'ar-syi'ar Allah, ditetapkannya. Apa yang telah rusak atau diubah, termasuk syiar kemusyrikan atau kebatilan, dibatalkannya dan dicatatnya pembatalan tersebut."

Tidak syak lagi bahwa kami tidak mengemukakan pendapat "pembahasan" ini untuk dibahas dan didiskusikan. Adalah sia-sia mendiskusikan omong kosong seperti ini. Akan tetapi, kami bermaksud agar para pembaca mengetahui sejauh mana fanatisme buta ini mempengaruhi seseorang. Hal inilah yang ingin penulis ingatkan, yaitu sejauh manakah metodologi dan objektivitas pembahasan ilmuwan Barat yang oleh sebagian orang diagung-agungkan itu.

Dari uraian terdahulu, jelaslah bagaimana kaitan antara Islam dan pemikiran jahiliah yang berkembang di kalangan orang Arab sebelum kedatangan Islam. Dapat diketahui pula bagaimana kaitan antara masa Jahiliah dan millah hanifiyah yang telah dibawa oleh Ibrahim 'alahis salam.

Dari sini dapat diketahui pula mengapa Rasulullah shallahu 'alahi wa sallam banyak menetapkan tradisi-tradisi dan prinsip-prinsip yang sebelumnya telah berkembang di kalangan orang Arab. Akan tetapi, pada waktu yang sama, Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam juga menghapuskan dan memerangi yang lainnya.

Dengan demikian, kami telah cukup menjelaskan beberapa muqaddimah yang diperlukan untuk melakukan kajian terhadap esensi Sirah Nabawiyah dan meng-istinbath fiqh dan pelajaran-pelajarannya.

Pada kajian-kajian mendatang, anda akan mendapatkan bukti dan penjelasan yang menegaskan apa yang telah kami kemukakan di atas.


 

Sumber:

Al-Buthy, Sa'id Ramadhan. 2006. Sirah Nabawiyah: Ananlisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW (terj.). Jakarta: Robbani Press.

Sunday, January 24, 2010

MANHAJ PARA RASUL DALAM MENANAMKAN AQIDAH

Para Rasul menyampaikan aqidah ini kepada umat manusia dengan cara yang seluruhnya mudah dipahami, sederhana dan logis. Para Rasul mengajak mereka untuk memperhatikan kerajaan langit dan bumi, membangkitkan akal mereka untuk berpikir tentang ayat-ayat (tanda kekuasaan) Allah, mengingatkan fitrah mereka kepada perasaan beragama yang telah ditanamkan padanya, dan menumbuhkan kesadaran akan adanya suatu alam di balik alam materi ini.


Dengan cara-cara inilah Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam menanamkan aqidah ini ke dalam jiwa umatnya, mengarahkan pandangan dan pikiran mereka, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrah mereka, seraya merawat tanaman ini dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai puncak kesuksesan. Nabi shallallahu 'alahi wa sallam berhasil mengubah uamt dari paganism dan kemusyrikan menjadi umat yang beraqidah tauhid, berhasil mengisi hati mereka dengan keimanan dan keyakinan, sebagaimana beliau berhasil menajdikan para sahabatnya sebagai pemimpin perbaikan umat dan pelopor kebajikan. Disamping berhasil mewujudkan suatu generasi yang berwibawa dengan iman dan berpegang teguh kepada kebenaran. Sehingga generasi ini bagaikan matahari bagi dunia dan pembawa kesejahteraan bagi umat manusia.

Allah telah memberikan kesaksian-Nya atas keungulan dan keistimewaan generasi ini, melalui firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (Ali Imran [3]: 110)

Iman yang dimiliki sebagian sahabat Nabi benar-benar telah mencapai derajat yang tinggi sebagaimana dikatakan salah seorang dari mereka: "Andaikata tabir (yang menutup pandangan) kami (terhadap hal-hal ghaib) itu dibukakan niscaya (hal itu) tidak menambah keyakinanku."

Di dalam hadits yang disampaikan al-Harits bin Malik al-Anshari radiyallahu 'anhu terdapat keterangan yang memberikan kepada kita gambaran iman yang cemerlang ini.

Suatu saat Haritsah melewati Rasulullah shalallahu 'alahi wa sallam, lalu Rasulullah bertanya: Bagaimana keadaanmu di pagi ini wahai Haritsah?

Ia menjawab: Di pagi ini aku menjadi seorang mukmin.

Nabi bersabda: Perhatikanlah apa yang kamu ucapkan. Sebab segala sesuatu itu punya bukti. Apa bukti imanmu?

Ia menjawab: Jiwaku telah menjauhi dunia, sehingga aku tidak tidur di malam hari (untuk munajat) dan aku haus di siang hari (kaerna berpuasa). Seolah-olah aku melihat 'Arsy Tuhanku dengan jelas, dan seolah-olah aku melihat penghuni surga saling kunjung-mengunjungi di dalamnya dan seolah-olah aku melihat penghuni neraka berteriak-teriak di dalamnya.

Nabi bersabda: Kamu telah mengetahui (ma'rifat) wahai Haritsah, maka tetaplah kamu demikian. (Diriwayatkan ole hath-Thabrani dengan sanad lemah).

(Sumber: Sayyid Sabiq. Aqidah Islamiyah, terj. Ali Mahmudi. Jakarta: Robbani Press, 2008, h. 11-12.)