Showing posts with label Aqidah Islamiyah. Show all posts
Showing posts with label Aqidah Islamiyah. Show all posts

Sunday, January 24, 2010

MANHAJ PARA RASUL DALAM MENANAMKAN AQIDAH

Para Rasul menyampaikan aqidah ini kepada umat manusia dengan cara yang seluruhnya mudah dipahami, sederhana dan logis. Para Rasul mengajak mereka untuk memperhatikan kerajaan langit dan bumi, membangkitkan akal mereka untuk berpikir tentang ayat-ayat (tanda kekuasaan) Allah, mengingatkan fitrah mereka kepada perasaan beragama yang telah ditanamkan padanya, dan menumbuhkan kesadaran akan adanya suatu alam di balik alam materi ini.


Dengan cara-cara inilah Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam menanamkan aqidah ini ke dalam jiwa umatnya, mengarahkan pandangan dan pikiran mereka, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrah mereka, seraya merawat tanaman ini dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai puncak kesuksesan. Nabi shallallahu 'alahi wa sallam berhasil mengubah uamt dari paganism dan kemusyrikan menjadi umat yang beraqidah tauhid, berhasil mengisi hati mereka dengan keimanan dan keyakinan, sebagaimana beliau berhasil menajdikan para sahabatnya sebagai pemimpin perbaikan umat dan pelopor kebajikan. Disamping berhasil mewujudkan suatu generasi yang berwibawa dengan iman dan berpegang teguh kepada kebenaran. Sehingga generasi ini bagaikan matahari bagi dunia dan pembawa kesejahteraan bagi umat manusia.

Allah telah memberikan kesaksian-Nya atas keungulan dan keistimewaan generasi ini, melalui firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (Ali Imran [3]: 110)

Iman yang dimiliki sebagian sahabat Nabi benar-benar telah mencapai derajat yang tinggi sebagaimana dikatakan salah seorang dari mereka: "Andaikata tabir (yang menutup pandangan) kami (terhadap hal-hal ghaib) itu dibukakan niscaya (hal itu) tidak menambah keyakinanku."

Di dalam hadits yang disampaikan al-Harits bin Malik al-Anshari radiyallahu 'anhu terdapat keterangan yang memberikan kepada kita gambaran iman yang cemerlang ini.

Suatu saat Haritsah melewati Rasulullah shalallahu 'alahi wa sallam, lalu Rasulullah bertanya: Bagaimana keadaanmu di pagi ini wahai Haritsah?

Ia menjawab: Di pagi ini aku menjadi seorang mukmin.

Nabi bersabda: Perhatikanlah apa yang kamu ucapkan. Sebab segala sesuatu itu punya bukti. Apa bukti imanmu?

Ia menjawab: Jiwaku telah menjauhi dunia, sehingga aku tidak tidur di malam hari (untuk munajat) dan aku haus di siang hari (kaerna berpuasa). Seolah-olah aku melihat 'Arsy Tuhanku dengan jelas, dan seolah-olah aku melihat penghuni surga saling kunjung-mengunjungi di dalamnya dan seolah-olah aku melihat penghuni neraka berteriak-teriak di dalamnya.

Nabi bersabda: Kamu telah mengetahui (ma'rifat) wahai Haritsah, maka tetaplah kamu demikian. (Diriwayatkan ole hath-Thabrani dengan sanad lemah).

(Sumber: Sayyid Sabiq. Aqidah Islamiyah, terj. Ali Mahmudi. Jakarta: Robbani Press, 2008, h. 11-12.)


Tuesday, December 9, 2008

WALI-WALI ALLAH DAN WALI-WALI SYETAN (1)

Definsi Wali

Kata al-wali adalah anonim dari kata al-‘aduw (musuh). Kata ini juga dapat digunakan untuk makna memantau, mengikuti, dan berpaling. Jadi, ia merupakan kata yang mengandung dua arti yang anonim. Misalnya, firman Allah SWT,
”Dan jika kamu berpaling niscaya dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain.” (QS Muhammad: 38)
Maksudnya berpaling dari Islam.

Anonimnya, firman Allah SWT berikut,

”Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS Al-Maaidah: 51)
Maksudnya mengikuti mereka.

Kata Al-Wali setimbang dengan wazan (timbangan) kata fa’il. Bentuk ini bisa berarti fa’il (subjek) sehingga artinya adalah yang diberi tugas melaksanakan suatu urusan. Bisa juga berarti maf’ul (objek) sehingga artinya adalah yang diikuti.

Walayatullah (perlindungan dan kewalian dari Allah) di dapat setelah seorang muslim mengaplikasikan konsep aqidah al-wala’ wal bara’. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Hajar dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata:

”Barang siapa yang mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, bersekutu karena Allah dan bermusuhan karena Allah, sesungguhnya hanya dengan walayatullah (perlindungan dan kewalian dari Allah) diperoleh”.

Wednesday, November 19, 2008

MA'RIFATUL ISLAM (1) PENGERTIAN ISLAM MENURUT BAHASA DAN ISTILAH

BAHASA

Dari segi bahasa, Islam berasal dari kata aslama yang berakar dari kata salama. Kata Islam merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata aslama ini.

الإسلام مصدر من أسلم يسلم إسلاما

Ditinjau dari segi bahasanya yang dikaitkan dengan asal katanya, Islam memiliki beberapa pengertian, diantaranya adalah:
1. Berasal dari ‘salm’ (السَّلْم) yang berarti damai.

Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman (QS. 8 : 61)

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Kata ‘salm’ dalam ayat di atas memiliki arti damai atau perdamaian. Dan ini merupakan salah satu makna dan ciri dari Islam, yaitu bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa membawa umat manusia pada perdamaian.

Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman : (QS. 49 : 9)

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي

حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu'min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Sebagai salah satu bukti bahwa Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi perdamaian adalah bahwa Islam baru memperbolehkan kaum muslimin berperang jika mereka diperangi oleh para musuh-musuhnya.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: (QS. 22 : 39)

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.”

2. Berasal dari kata ‘aslama’ (أَسْلَمَ) yang berarti menyerah.
Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemeluk Islam merupakan seseorang yang secara ikhlas menyerahkan jiwa dan raganya hanya kepada Allah SWT. Penyerahan diri seperti ini ditandai dengan pelaksanaan terhadap apa yang Allah perintahkan serta menjauhi segala larangan-Nya. Menunjukkan makna penyerahan ini,

Allah berfirman dalam al-Qur’an: (QS. 4 : 125)

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”

Sebagai seorang muslim, sesungguhnya kita diminta Allah untuk menyerahkan seluruh jiwa dan raga kita hanya kepada-Nya. Dalam sebuah ayat Allah berfirman: (QS. 6 : 162)

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Karena sesungguhnya jika kita renungkan, bahwa seluruh makhluk Allah baik yang ada di bumi maupun di langit, mereka semua memasrahkan dirinya kepada Allah SWT, dengan mengikuti sunnatullah-Nya. Allah berfirman: (QS. 3 : 83) :

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُون

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.”

Oleh karena itulah, sebagai seorang muslim, hendaknya kita menyerahkan diri kita kepada aturan Islam dan juga kepada kehendak Allah SWT. Karena insya Allah dengan demikian akan menjadikan hati kita tentram, damai dan tenang (baca; mutma’inah).

3. Berasal dari kata istaslama–mustaslimun (اسْتَسْلَمَ - مُسْتَسْلِمُوْنَ): penyerahan total kepada Allah.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 37 : 26)

بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ

“Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.”

Makna ini sebenarnya sebagai penguat makna di atas (poin kedua). Karena sebagai seorang muslim, kita benar-benar diminta untuk secara total menyerahkan seluruh jiwa dan raga serta harta atau apapun yang kita miliki, hanya kepada Allah SWT. Dimensi atau bentuk-bentuk penyerahan diri secara total kepada Allah adalah seperti dalam setiap gerak gerik, pemikiran, tingkah laku, pekerjaan, kesenangan, kebahagiaan, kesusahan, kesedihan dan lain sebagainya hanya kepada Allah SWT. Termasuk juga berbagai sisi kehidupan yang bersinggungan dengan orang lain, seperti sisi politik, ekonomi, pendidikan, sosial, kebudayaan dan lain sebagainya, semuanya dilakukan hanya karena Allah dan menggunakan manhaj Allah.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 2 : 208)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Masuk Islam secara keseluruhan berarti menyerahkan diri secara total kepada Allah dalam melaksanakan segala yang diperintahkan dan dalam menjauhi segala yang dilarang-Nya.

4. Berasal dari kata ‘saliim’ (سَلِيْمٌ) yang berarti bersih dan suci.

Mengenai makna ini, Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 26 : 89):

إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِي
مٍ

“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Dalam ayat lain Allah mengatakan (QS. 37: 84)

إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.”

Hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang suci dan bersih, yang mampu menjadikan para pemeluknya untuk memiliki kebersihan dan kesucian jiwa yang dapat mengantarkannya pada kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Karena pada hakekatnya, ketika Allah SWT mensyariatkan berbagai ajaran Islam, adalah karena tujuan utamanya untuk mensucikan dan membersihkan jiwa manusia.

Allah berfirman: (QS. 5 : 6)

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah sesungguhnya tidak menghendaki dari (adanya syari’at Islam) itu hendak menyulitkan kamu, tetapi sesungguhnya Dia berkeinginan untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

5. Berasal dari ‘salam’ (سَلاَمٌ) yang berarti selamat dan sejahtera.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an: (QS. 19 : 47)

قَالَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku."

Maknanya adalah bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa membawa umat manusia pada keselamatan dan kesejahteraan. Karena Islam memberikan kesejahteraan dan juga keselamatan pada setiap insan.

ISTILAH

Adapun dari segi istilah, (ditinjau dari sisi subyek manusia terhadap dinul Islam), Islam adalah ‘ketundukan seorang hamba kepada wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para nabi dan rasul khususnya Muhammad SAW guna dijadikan pedoman hidup dan juga sebagai hukum/ aturan Allah SWT yang dapat membimbing umat manusia ke jalan yang lurus, menuju ke kebahagiaan dunia dan akhirat.’

Definisi di atas, memuat beberapa poin penting yang dilandasi dan didasari oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Diantara poin-poinnya adalah:

1. Islam sebagai wahyu ilahi (الوَحْيُ اْلإِلَهِي)
Mengenai hal ini, Allah berfirman QS. 53 : 3-4 :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."

2. Diturunkan kepada nabi dan rasul (khususnya Rasulullah SAW) (دِيْنُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ)
Membenarkan hal ini, firman Allah SWT (QS. 3 : 84)

قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri."

3. Sebagai pedoman hidup (مِنْهَاجُ الْحَيَاةِ)
Allah berfirman (QS. 45 : 20):

هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

"Al Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini."

4. Mencakup hukum-hukum Allah dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW (أَحْكَامُ اللهِ فِيْ كِتَابِهِ وَسُنَّةُ رَسُوْلِهِ)
Allah berfirman (QS. 5 : 49-50)

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ * أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

5. Membimbing manusia ke jalan yang lurus. (الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيْمُ)
Allah berfirman (QS. 6 : 153)

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.”

6. Menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.(سَلاَمَةُ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ)
Allah berfirman (QS. 16 : 97)

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.



Referensi:

Marifatul Islam By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag.
Mahad Tarbiyah CIlincing

Bahan Bacaan:
  • Hadiri, Khairuddin. Klasifikasi Kandungan Al-Qur’an. Cet. V – 1996 / 1417 H. Jakarta : Gema Insani Press.
  • Hawwa, Sa’id. Al-Islam. (Terj. Oleh Abu Ridha dan AR Shaleh Tamhid) Cet. I – 2000. Jakarta : Al-I’tisham Cahaya Umat.
  • Zaidan, Abdul Karim. Ushul al-Da’wah. Cet. V – 1996/ 1417 H. Beirut – Libanon : Mu’assasatur Risalah.
  • CD. ROM. Al-Qur’an 6.50 & Al-Hadits. Syirkah Sakhr li Baramij al-Hasib (1991 – 1997).
  • CD. ROM. Mausu’ah Ulama’ al-Islam; Dr. Yusuf al-Qardhawi ; al-Fiqh wa Ushulih. Al-Markaz al-Handasi lil Abhas al-Tatbiqiyah.
  • CD. ROM. Mausu’ah al-Hadits al-Syarif 2.00 (Al-Ishdar al-Tsani). Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah.

Monday, October 13, 2008

PENTING DIBACA: UNTUK CARI KEBENARAN SEJATI

Menyaksikan anak manusia dengan berbagai pemikirannya tetang semesta raya ini membuat saya bertanya: "Apa sih yang buat mereka berbeda-beda pandang tentang Pencipta-nya?

Dari alam semesta yang sama ternyata lahir beragam teori tentang asal muasal alam semesta ini. Intinya cuma dua kubu: "Ada Tuhan sebagai Pencipta" dan "Tidak ada Tuhan".
Dan menempatkan diri di tengah keduanya akan membuat kita jatuh pada jurang kesesatan yang sangat parah. Karena bagaimanapun cuma dua pilihan: Ada Tuhan atau tidak ada?
Nah kalau ada yang memilih di tengah-tengah dengan alasan semua tidak pasti itu jelas menujukkan sesuatu yang bodoh dan absurd. (Misal dia mengatakan: "Lho bisa jadi khan yang benar itu yang tidak percaya tuhan atau sebaliknya, artinya tidak ada kebenaran mutlak). Saya berani mengatakan orang yang mencoba berpikiran seperti ini sama saja merendahkan kemanusiaannya dan menghina dirinya sendiri yang dilengkapi dengan beragam potensi seperti akal untuk menganalisa; mata untuk mengamati, membaca, dan meneliti; telinga untuk mendengar; dan potensi lainnya. Semua potensi ini mengharuskan si empunya untuk mengoreksi 'kebenaran'.

Akal pastilah akan merasa janggal manakala ada DUA BUAH KEEBNARAN YANG BERTENTANGAN PADA SAAT YANG SAMA. Nah, ada Tuhan dan Tidak ada Tuhan adalah dua buah kebenaran yang bertentangan. Jadi, akal akan berkata, "Tidak mungkin dua-duanya benar atau dua-duanya salah, pasti yang satu benar yang satu salah!" Tinggal nanti dilakukan pembuktian mana yang benar dan mana yang salah, Jadi hanya ada dua pendapat.

Sebelum masuk ke poin-poin penting dalam mencari kebenaran sejati--yaitu tentang eksistensi Allah--ada beberapa hal yang mesti kita HINDARI--jikalau ingin mencari dan mendapat kebenaran sejati itu, sebagai berikut:

  1. Sikap sombong. Orang yang yang hatinya congkak tidak akan bisa melihat kebenaran. (QS. Al-A'raf: 146)

  2. Zalim dan Dusta. (QS. Ash-Shaff:7; Az-Zumar:3)

  3. Tindakan yang merusak di muka bumi, dan memutuskan amanaa-amanat yang harus disampaikan. (QS. Al-Baqarah: 26-27)

  4. Sikap lalai. Orang yang lalai tidak akan menemukan kebenaran sejati--kenal Allah. Sebetulnya dibalik kelalaian ini, yang ada hanyalah hawa nafsu, karena kehidupan ini semuanya memang permainan dan hawa nafsu. (QS. Muhammad: 36; Al-Anbiya': 1-3)

  5. Sikap berbuat jahat. (QS. Al-Mutahffifin: 14; Al-Hijr; 12-13)

  6. Kita harus membebaskan diri kita dari sikap ragu-ragu untuk menerima kebenaran yang kita anggap sudah jelas. Orang yang ragu-ragu padahal kebenaran sudah tampak dengan jelas didepannya, hanya akan membawanya pada kesesatan. Dan dengan alasan itulah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Bukan karena Alalah tidak Mengasihi, tetapi karena perbuatan merekalah maka mereka sesat dengan izin Allah. (QS. Al-An'aam: 110)


Orang yang diliputi keenam sifat diatas akan sangat sulit atau bahkan cenderung mustahil untuk mendapat kebenaran sejati Contoh, orang yang sombong, ketika mendapati pendapatnya salah tetapi akibat sombong ia tidak mau mengakui kesalahan pendapatnya. Orang yang dusta akan berusaha sebisa mungkin menutupi pendapatnya yang absurd (mustahil) atau lemah atau jelas-jelas bermasalah karena tidak dilengkapi bukti-bukti yang akurat dan empiris. Nah, disinilah mengapa logika tidak akan pernah bertentangan dengan kebenaran sejati (adanya Allah). Bukan Allah atau bukti-bukti keberadaan-Nya yang tidak ada atau kurang meyakinkan, tetapi karena hati nurani yang tidak dipakailah yang menyebabkan seseorang itu berpaling dari kebenaran. Sebagaimana disampaikan di tulisan sebelum ini, selalu ada akal (rasio) dan nurani (conscience) di sisi lain untuk menemukan kebenaran sejati--eksistensi Allah.

Selanjutnya, mari kita masuki apa yang saya sebut poin-poin penting yang harus dipegang dalam mencari kebenaran sejati--eksistensi Allah-- itu (Poin ini diambil dari kaidah Aqidah yang disusun oleh Syaikh Ali Tanthawi dalam bukunya Ta'rif Am bi dinil Islam, fasal Qawaa'idul 'Aqa'id)

1. Apa yang saya dapat dengan indera saya, saya yakini adanya, kecuali bila akal saya mengatakan "tidak" berdasarkan pengalaman masa lalu.

Untuk menjelaskannya saya akan sebutkan sebuah permisalan.Jikalau pertama kali kita meihat pensil yang ada di dalam di segelas air terlihat bengkok, maka kita akan membenarkannya. Namun, apabila di kemudian hari ternyata terbukti penglhatan saya itu salah, maka untuk kedua kalinya bila saya melihat hal yang sama, akal saya akan langsung mengatakan tidak demikian hal yang sebenarnya.

2. Keyakinan, di samping diperoleh dengan menyaksikan langsung, juga bisa melalui berita yang diyakini kejujuran si pembawa berita.

Banyak hal yang memang tidak atau belum kita saksikan sendiri tapi kita meyakini adanya. Misalnya kita belum pernah ke Bulan, Mars, Amerika, India, Arab, atau ke Ka'bah, tapi kita yakin tempat-tempat itu ada. Atau tentang fakta sejarah, tenatang Daulah Abbasiyah, Umayah, tenatang Napoleon, Nazi, Charles Darwin, Lenin, Perang Dunia, Proklamasi, dan lain sebagainya, kita menerima kebenaran akan peristiwa-peristiwa ini dari sumber-sumber yang dipercaya. Bahkan, kalau seseorang mau memperhatikan (tentu dengan menghilangkan perasaaan yang enam di atas) ternayata dari sekian banyak hal yang selama ini ia yakini, ternyata yang belum dia saksikan jauh lebih banyak dari pada yang sudah disaksikannya.

3. Anda tidak berhak memungkiri wujud-(ada)-nya sesuatu, hanya karena anda tidak bisa menjangkaunya dengan indera mata.

Kemampuan alat indera memang sangat terbatas. Telinga ktia--dalam kondisi normal--hanya mampu menjangkau suara pada kisaran 20-20.000 Hz di luar itu kita meneyerah. Tapi apakah kita kemudian mengatakan, "Oh suara yang frekuensinya kurang dari 20 Hz ataulebih dari 20.00 Hz itu tidak ada karena saya tidak bisa dengar"?. Ternyata tidak, iIlmu pengetahuan bahkan membuktikan secara empiris dan akurat bahwa suara-suara itu ada.
Nah, keterbatsan ini juga berlaku untuk indera penglihatan.
Manusia memiliki batas jarak pandang. Sebagai contoh, bayangkan anda berdiri di tepi pantai dengan menghadap laut dan tidak terlihat apa-apa kecuali hamparan yang luas membiru. Orang yang menggunakan logikanya tidak akan mengatakan, "Oh, di ujung garis lurus itu tidak ada pulau lagi, karena tidak terlihat dari sini pulau itu."
Ia , dengan kesadaran penuh menyadari bahwa jangkauan matanya terbatas. Oleh karena itu mengklaim bahwa tidak ada pulau di ujung lautan sana karena tidak bisa dilihat sama saja dengan membodohi dirinya, dan merendahkan akalnya.
Jadi, begitupula dengan Dzat Allah, sangat tidak masuk akal orang yang mengatakan bahwa Alalh tidak ada hanya karena tidak bisa dilihat. Betapa mereka mengakui banyak hal yang tidak kelihatan, seperti magnet, listrik, perasaan cinta, marah, senang , dan lain sebagainya yang itu tidak kelihatan oleh mata. namun mereka percaya, karena ada fenomena-fenomena yang menunjukkan hal itu. Slahkan anda tunjukkan bentuk listrik itu seperti apa, anda tidak akan menemui jawabannya pada orang yang ahli kecuali mereka mengatakan, "Hanya ada medan listrik," dan seterusnya.
Bagaimana mungkin orang yang mengguankan akalnya, di satu sisi mengakui hal-hal itu , tapi menolak untuk menerapkannya pada Dzat Allah? Silahkan pikirkan, siapa yang salah? Bukti-bukti inikah atau cara berpikirkita yang salah??

4. Seseorang hanya bisa menghayalkan sesuatu yang sudah pernah dijangkau oleh inderanya.

Khayal manusia terbatas adanya. Anda tidak akan bisa membanyangkan sesuatu yang baru sama sekali. Bahkan dalam dunia desain sekalipun, seorang desainer abstrak mengambil ide dari hal-hal yang ada di sekelilingnya.
Anda boleh mengatakan lukisan si A abstrak. Tetapi cat air dan kanvas yang ia gunakan, bukankah membuktikan bahwa ia menggunakan inderanya?? Pemilihan warna yang ia lakukan diambil dari warna-warna yang sudah pernah ia lihat kemudian dicampur aduk menjadi sesuatu yang 'baru' menurut dia. Bahkan untuk menilai lukisan abstraknya, harus ada mata pengamat?? Nah darimana mereka menilai lukisan abstrak itu jikalau bukan dari pengalaman mereka menggunakan indera mereka??
Oleh karena itulah, anda tidak akan mungkin bisa membanyangkan sesuatu yang belum pernah diindera oleh anda. Misal, suara yang nadanya harum, parfum yang baunya merdu, dan lain sebagainya. Apa sebab?
Karena setiap indera anda terikat dengan hukum masing-masing dengan keterbatasan dan kekhususan yang pasti

5. Akal hanya bisa menjangkau hal-hal yang terikat dengan ruang dan waktu.

Ketika naik mobil dan melihat pohon di pinggir jalan, kita mungkin sempat berpikir, "Pohonya bergerak mundur". Tapi akal kita akan dengan cepat emngkoreksi, bahwa "Pohonnya diam, kita yang bergerak." Namun apakah akal akan selalu bisa menjangkau semuanya?? Ternyata tidak, akal pun hanya bisa menjangkau sesuatu yang terikat ruang dan waktu. Buktinya, silahkan anda sebutkan negeri yag dia tidak ada dimana-mana? Atau bisakah akal anda menjelaskan sesuatu peristiwa yang tidak terjadi di masa lalu, sekarang, atau yang akan datang?

6. Iman adalah fithrah (nurani) setiap manusia.

Setiap manusia memiliki fithrah untuk percaya pada Tuhan. Ambil contoh, ketika seseorang--yang tidak beriman sekalipun--tersesat dalam sebuah hutan sehingga ia kehilangan harapan hidup dan tidak ada siap-siapa, maka ia berharap ada sesuatu di luar dia untuk menolongnya. Dan pada saat itu, akalnya akan dengan cepat berputar untuk mengatakan padanya,
"Hei, jangan minta pada pohon atau tumbuhan atau binatang, karena kamu tahu mereka punya banyak keterbatasan, kamu bahkan lebih hebat dari mereka semua!!" Atau,
"Jangan minta pada bulan, matahari, batu, atau yang lainnya karena mereka semua benda mati. Benda mati itu tidak berkehendak. Ilmu pengetahuan yang berhasil kamu kumpulkan mengatakan itu semua!!"
Dan akalnya yang dimbing dengan nurani yang bersih akan mengatakan,
"Mintalah kamu kepada Sesuatu yang Dia memiliki kekuasaan yang tidak terbatas, Sesuatau yang Luar Biasa. Dan Dia haruslah yang Menciptakan, Mengendalikan, dan di luar alam semesta itu sendiri. Karena kalau bukan penciptanya,berarti dia tidak tahu seluk-beluk kamu, kalau dia tidak mengendalikan berarti dia tidak akan mampu menolong kamu--seperti halnya batu, bulan dan lain sebagainya itu--, dan kalau dia ada di alam semesta berarti dia terbatas, karena ilmu pengetahun yang kamu kumpulkan menunjukkan bahwa alam semesta ini tidak tak terbatas. Jadi mintalah kepada Dzat itu saja, yaitu kepada Allah semata!"
Bagaimanapun, fithrah ini hanya potensi dasar, ia harus dijaga, dikembangkan, dan dipelihara, karena ia bisa tertutupi oleh berbagai macam hal.

7. Kepuasan materiel di dunia sangat terbatas.
Manusia tidak akan puas dengan materiel. Contoh, seorang yang belum punya sepeda ingin punya sepeda. Setelah punya sepeda, ingin punya motor dan seterunya sampai mobil, pesawat, dan lain-lain.
Bila keinginannya tercapai dan kemudian berubah mejadi "biasa", maka keinginan itu tidak lagi mendatangkan kepuasan di dalam dirinya. Dia selalu ingin lebih dari apa yang didapatnya secara materiel. Oleh sebab itu, manusia butuh alam lain yang bukan di alam semesta ini--karena sekali lagi semuanya terbatas--untuk mendapatkan kepuasan hakiki yang tidak terbatas.

8. Keyakinan tentang Hari Akhir/Kiamat adalah konsekuensi logis dari keyakinan tentang adanya Allah.

Mengapa? Pertanyaan ini akan dijawab dengan pertanyaan dan jawaban. Sebagai berikut:
Jika Anda percaya Tuhan, maka anda harus percaya kalau Dia memiliki sifat-sifat Luar Biasa (Maha). Tentu jawaban anda, "Ya".
Baik kalau begitu, kemudian diantara sifatnya yang luar biasa itu adalah Maha Adil, yang pelaksanaan hukum dan sidang-Nya tanpa celah dan cacat sedikitpun? Sekali lagi anda akan menjawab, "Ya".
Nah, lalu kalau dikatakan dunia ini sudah cukup untuk menjadi pelaksanaan keadilan Allah, anda setuju?? Untuk ini barangkali anda akan menjawab sedikit ragu, "Bisa ya, bisa juga tidak" bergantung pengalaman anda.
Tapi, kalau kemudian saya bertanya lagi, berapa banyak penjahat, bandit, atau koruptor yang mati dengan lenggang kangkung tanpa sempat diadili?? Berapa banyak orang-orang teraniaya yang belum sempat mendapat haknya tapi keburu mati?? Bukankah ini menunjukkan bahwa keadilan Allah yang hakiki bukan di dunia ini, atau di alam semesta ini?? Tidak lain tidak bukan anda akan menjawa dengan jelas, "Ya".
Oleh karena itu, jika saya bertanya pada anda: Lalu berarti ada tempat lain yang bukan di alam semesta ini, dimana Allah akan menjalankan keadilan yang hakiki itu?? Maka sudah pasti anda akan menjawab, "Ya".
Berarti anda percaya, adanya hari akhir, khan?! Akan sangattidak masuk akal kalau anda tidak menjawab dengan, "Ya, saya percaya akan adanya hari akhir (kiamat)."


==========================
============
That's all..Semoga bermanfaat.

Mereka bermata tapi tidak melihat...
Bertelinga tapi tidak mendengar...
Berakal tapi tidak berpikir...
Berhati tapi tidak berperasaan...
Meraka itulah orang-orang yang menyesakan diri mereka sendiri dan membodohi diri mreka, sehingga mereka sesat dan bodoh, bahkan lebih sesat dan bodoh dari binanatang ternak...

Wallahu a'alam..

======================================
Rujukan penulisan:

1. Al-Quran Al-Karim
2. Fatwa-fatwa Rasulullah saw. dalam Masalah Aqidah oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
3. Kuliah Aqidah Islam oleh Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc.
4. Allah oleh Sayaikh Sa'id Hawaa
5. Pengantar Studi Aqidah Islam oleh Dr. Ibrahim Muhammad bin Abdullah Al-Buraikan
6. Allah dalam Aqidah Islam oleh Imam Hasan Al-Banna
7. Al-Utsul Ats-Tsalatsa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
8. Bahan kuliah Aqidah STIDDI Al-Hikmah oleh Al-Ustadz Arif Ma'ruf Lc.
9. Sumber lainnya.