Monday, October 13, 2008

AGAMA MENDORONG SAINS (2)

Percaya kepada Allah Membuat Ilmuwan Bergairah dan Bersemangat

Seperti telah disebutkan ditulisan sebelumnya, agama mendorong sains. Mereka yang menggunakan akal dan mengikuti nurani untuk melakukan penelitian ilmiah, akan memperoleh iman yang kuat karena mereka memahami tanda-tanda Allah secara langsung. Mereka dihadapkan pada suatu sistem yang tak bercela dan detail sempurna yang diciptakan Allah di tiap tahapan penelitian yang mereka kerjakan, dan di tiap penemuan yang mereka buat. Seperti dinayatakan Rasulullah Muhammad saw., mereka bertindak dengan kesadaran bahwa, "orang yang pergi untuk mencari pengetahuan adalah orang yang taat (beriman) pada Allah hingga ia kembali." (HR. Tirmidzi)

Sebagai contoh, seorang ilmuwan yang melakukan penelitian tentang mata, setelah mengetahui betapa kompleksnya sistem mata, menemukan bahwa mata tidak akan pernah dapat terbentuk melalui proses kebetulan yang berangsur-angsur. Pengujian lebih lanjut akan membuat dia menyadari bahwa setiap detail dalam struktur mata adalah suatu ciptaan ajaib. Dia melihat bahwa mata terdiri dari lusinan komponen yang bekerja bersama dalam keselarasan, sehingga meningkatkan kekagumannya kepada Allah yang menciptakannya.

Sama halnya, seorang ilmuwan yang menyelidiki kosmos akan segera mendapati dirinya dihadapkan pada ribuan keseimbangan yang luar biasa. Dia akan semakin haus akan ilmu setelah menemukan bahwa miliaran galaksi dan miliaran bintang dalam galaksi ini berada dalam keselarasan di dalam keluasan jagat raya tak terbatas. Melihat ini, orang yang beriman menjadi sangat terpesona dan terilhami untuk melakukan studi ilmiah menyingkap rahasia alam semesta. Di dalam salah satu, artikelnya, Albert Einstein -yang dianggap sebagai jenius terbesar era yang lalu-, merujuk inspirasi yang diperoleh ilmuwan dari agama:

"...Saya percaya bahwa perasaan religius yang kosmis adalah alasan paling kuat dan paling mulia untuk penelitian ilmiah. Hanya mereka yang menyadari upaya terukur dan--di atas segalanya--ketaatan (yang tanpa semua itu pekerjaan-pekerjaan perintis dalam sains teoritis tidak mungkin dicapai) saja yang mampu memahami kekuatan emosi (yang hanya bisa ditimbulkan oleh pekerjaan seperti itu, sekalipun jauh dari kenyataan hidup sehari-hari). Keyakinan yang mendalam akan rasionalitas alam semesta dan kerinduan untuk dapat memahami (meskipun hanya sebuah pemikiran lemah yang terungkap) di dunia ini, pastilah yang membuat Kepler dan Newton mampu menghabiskan bertahun-tahun bekerja dalam kesendirian untuk menguraikan prinsip-prinsip mekanika angkasa luar!

Mereka yang hanya mendapatkan pengetahuan penelitian ilmiah dari hasil-hasil praktis, dengan mudah dapat mengembangkan suatu gagasan salah dari mentalitas orang-orang (yang karena dikepung oleh suatu dunia skeptis) telah menunjukkan jalan ke arah pemikiran kelompok yang menyebar ke seluruh dunia dan sepanjang abad. Hanya orang yang telah mengabadikan hidupnya sampai akhir saja yang memiliki kesadaran jelas tentang apa yang telah mengilhami orang-orang ini dan memberi mereka kekuatan untuk tetap pada tujuan mereka kendati mengalami kegagalan tak terbilang. Itulah perasaan religius kosmis yang memberi kekuatan kepada seorang manusia. Tidaklah berlebihan jika para modernis berkata bahwa di zaman materialistis ini, para pekerja serius hanyalah orang-orang yang amat religius."
(Albert Einstein, Ideas and Opinions, Crown Publishers, New York, 1954)

Johannes Kepler menyatkan bahwa dia terlibat dalam sains untuk menggali karya Sang Pencipta, sedang Isaac Newton, ilmuwan besar lain, menyatakan bahwa pendorong utama di belakang minatnya terhadap sains adalah keinginannya untuk mengenal Tuhan dengan lebih baik.

Itu adalah pernyataan beberapa ilmuwan terkenal. Para ilmuwan ini akhirnya percaya pada keberadaan Allah dengan menyelidiki alam semesta, kemudian terkesan oleh hukum-hukum dan fenomena-fenomena yang telah diciptakan Allah secara menakjubkan, serta berharap menemukan lebih banyak lagi.

Seperti yang kita lihat, keinginan untuk mempelajari tentang 'bagaimana Allah menciptakan alam semesta' telah menajdi faktor pendorong terbesar bagi banyak ilmuwan. Ini sangat penting, karena orang yang menyadari bahwa alam semesta dan segala makhluk hidup adalah hasil penciptaan, akan menyadari bahwa penciptaan tersebut mempunyai tujuan. Tujuan ini kemudian mengarahkan manusia pada makna. Keinginan memahami arti penciptaan, menemukan berbagi tandanya dan menemukan berbagai detailnya, akan mempercepat laju kajian-kajian ilmiah.

Akan tetapi, jika kenyataan penciptaan alam semesta dan makhluk hidup ditolak, makna ini akan lepas juga. Seorang ilmuwan yang percaya pada filosofi materialis dan Darwinisme, akan beranggapan bahwa alam semesta tidak memiliki tujuan, dan bahwa segalanya adalah peristiwa kebetulan. Akibatnya, penyelidikan alam semesta dan makhluk hidup tak diiringi pencarian makna. Mengomentari fakta ini, Einstein menyatakan, "Saya tidak dapat menemukan ungkapan yang lebih baik daripada 'religius' untuk keyakinan terhadap sifat rasional dari realitas, sepanjang dapat diterima akal sehat manusia. Kapan saja perasaan ini tidak ada, sains merosot menjadi empirisme membosankan." (Letter to Maurice Solovine I, January 1, 1951; Einstein Archive 21-174, 80-871, diterbitkan dalam Letters to SOlovine, hlm. 119)

Dalam kasus di atas, tujuan tunggal para ilmuwan dalam melakukan penemuan-penemuan hanyalah untuk meraih ketenaran, untuk diingat sejarah, atau untuk menjadi kaya. Tujuan seperti itu dapat dengan mudah mengalihkannya dari ketulusan hati dan integritas ilmiah. Sebagai contoh, jika kesimpulan yang dicapainya melalui penelitian ilmiah tersebut bertentangan dengan pandangan masyarakat pada umumnya, dia mungkin terpaksa merahasiakannya agar reputasinya tidak jatuh atau dipermalukan publik, atau agar reputasinya tidak turun.

Penerimaan terhadap terori evolusi dalam dunia sains adalah suatu contoh tidak adanya ketulusan. Pada dasarnya, banyak ilmuwan--yang setelah menghadapi fakta ilmiah--menyadari bahwa teori evolusi tidak mampu menjelaskan asal kehidupan. Namun, mereka tidak berani menyatakannya secara terbuka karena takut mendapat reaksi negatif. Sehuhungan dengan itu, seorang ahli fisika Inggris, H. S. Lipson membuat pengakuan:

"Kita tahu jauh lebih banyak tentang benda hidup dibandingkan Darwin. Kita tahu bagaimana kerja saraf dan saya memandangnaya sebagai mahakarya teknik elektro. Dan, kita memiliki ribuan--bahkan jutaan--syaraf ddalam tubuh kita. Kata yang muncul dalam benak tentang hal ini adalah: 'Rancangan' . Namun, para ahli biologi kolega saya tidak menyukai kata itu." (H.S. Lipson, A Physicist's View of Darwin's Theory, Evolutionary Trends in Plants, vol.2, no. 1, 1988, hlm.6)

Kata 'rancangan' disingkirkan dari literatur ilmiah hanya karena ia tidak disukai, bersamaan dengan banyaknya ilmuwan yang menyerah pada dogmatisme seperti itu. Mengomentari hal tersebut, Lipson berkata:

"Bahkan, evolusi menajdi semacam agama ilmiah; hampir semua ilmuwan sudah menerimanya dan banyak yang siap 'membengkokkan' penelitian mereka agar sesuai dengannya." (H.S. Lipson, A Physicist's Look at Evolution, Physics Bulletin, vol.31 (1080) hlm. 138)

Situasi yang tidak diinginkan ini merupakan hasil tipuan "sains anti Tuhan" yang menguasai masyarakat ilmiah mulai pertengahan abad ke-19. Namun, seperti yang dinyatakan Einstein, "Sains tanpa agama adalah pincang." (Albert Einstein, Science, Phylosophy, And Religion: A Symposium, 1941, bab 1.3). Kepercayaan palsu ini tidak hanya mengarahkan masyarakat ilmiah pada tujuan yang salah. Ia juga menyebabkan para ilmuwan--yang menyadari kesalahan tersebut--tetap tak peduli atau mendiamkannya.

Bersambung...

===================================
Deinisi beberapa istilah:
kos·mis a mengenai kosmos (yaitu semua yg ada); berhubungan dng jagat raya
kos·mos n jagat raya; alam semesta
Sa·ins n 1 ilmu pengetahuan pd umumnya; 2 pengetahuan sistematis tt alam dan dunia fisik, termasuk di dalamnya, botani, fisika, kimia, geologi, zoologi, dsb; ilmu pengetahuan alam; 3 pengetahuan sistematis yg diperoleh dr sesuatu observasi, penelitian, dan uji coba yg mengarah pd penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yg sedang diselidiki, dipelajari, dsb
re·li·gi·us /réligius/ a bersifat religi; bersifat keagamaan; yg bersangkut-paut dng religi: ia sangat terkesan akan kehidupan -- di Indonesia
ra·si·o·nal a 1 menurut pikiran dan pertimbangan yg logis; menurut pikiran yg sehat; cocok dng akal;
me·ra·si·o·nal·kan v membuat menjadi rasional;
ke·ra·si·o·nal·an n pendapat yg berdasarkan pemikiran yg bersistem dan logis; hal dan keadaan rasional
ra·si·o·na·li·tas n kerasionalan
re·a·li·tas /réalitas/ n kenyataan

===================================
Referensi Penulisan: Idem dengan sebelum ini

No comments:

Post a Comment