Sunday, October 12, 2008

AGAMA MENDORONG SAINS (1)

Islam merupakan agama akal (reason) sekaligus nurani (conscience). Seseorang mengenali kebenaran yang telah dinyatakan agama dengan menggunakan ilmunya, tetapi menarik kesimpulan dari kebenaran dengan menggunakan nuraninya. Seseorang yang menggunakan kemampuan akal dan nuraninya dalam mempelajari objek apa pun di alam semesta ini, sekalipun ia bukanlah seorang pakar, akan paham bahwa objek tersebut telah diciptakan olehPemilik Kebijakan, Ilmu dan Kekuatan yang agung. Dan, sekalipun ia mungkin menemukan sedikit saja dari ribuan faktor yang memungkinkan untuk adanya kehidupan di atas bumi, sudah cukup baginya untuk memahami bahwa dunia telah dirancang utnuk mendukung kehidupan di dalamnya.

Oleh karena itu, orang yang menggunakan akal dan mengikuti nuraninya, akan dengan cepat menangkap kemustahilan pernyataan bahwa dunia terbentuk secara kebetulan. Singkatnya, orang yang berpikir dengan kemampuan ini, tetntu menyadari tanda-tanda Allah dengan sejelas-jelasnya. Salah satu ayat yang mengacu pada orang-orang yang memiliki sikap seperti itu, adalah:
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imran, 3:191)

Di dalam Al-Quran, Allah memerintahkan manusia untuk memikirkan dan mengkaji tanda-tanda penciptaan di sekitar mereka. Rasulullah Muhammad saw., sang utusan Allah, juga memerintahkan manusia untuk mencari ilmu. Beliau bahkan menekankan bahwa menjadi kewajiban manusialah untuk mencari ilmu. Perintah itu diungkapkan dalam hadits shahih berikut ini:
"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setipa muslim." (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Anas bin Malik)
"Carilah ilmu dan sampikanlah kepada yang lain." (HR. Tirmidzi, Darimi, dan Daruquthni, dari Abdullah bin Mas'ud)

Barangsiapa menyelidiki seluk-beluk alam semesta dengan segala sesuatu yang hidup dan tak hidup di dalamnya, dan memikirkan serta menyelidiki apa yang dilihatnya di sekitarnya, akan mengenali kebijakan, ilmu, dan kekuasaan abadi Allah. Beberapa perintah Allah kepada manusia untuk merenungkan penciptaan ditunjukkan dalam ayat berikut ini:

"Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang berada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit biru yang tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit, air yang banyak manfaatnya, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun." (QS. Qaaf, 50:6-10)

"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?" (QS. Al-Mulk: 67:3)

"maka apakah mereka tidak memerhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit, bagaimana dia ditinggikan? Dan bagaimana gunung-gunung, dan bagaimana ia ditegakkan? Dan bagaimana ia dihamparkan?" (QS. Al-Ghaasyiyah, 88:17-20)

Seperti diterangkan ayat-ayat diatas, Allah memerintahkan manusia untuk mempelajari dan mengkaji berbagai aspek dunia, seprti langit, hujan, tumbuhan, binatang, kelahiran, dan bentangan geografis. Cara untuk menyelidiki semua ini, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, adalah melalui sains. Pengamatan ilmiah memperkenalkan manusia pada misteri penciptaan, dan akhirnya pada pengetahuan, kebijakan, dan kekuasaan tanpa batas milik Allah. Sains adalah suatu cara untuk mengenal Allah dengan tepat, dan karena itulah sepanjang sejarah, sejumlah ilmuwan yang memberikan sumbangan besar bagi kemanusiaan telah beriman kepada Allah.

Bersambung...

==========================
Taken from: Al-Quran dan Sains
Author: Harun Yahya
Published by: Dzikra

No comments:

Post a Comment